Mengenang Sang Becak

Mengenang Sang Becak

Melihat bulan terang yang ikut berlayar di mobil, terkenang sekitar 45 tahun yang lalu ketika seluruh keluarga bersama empat anak yang masih kecil di waktu itu, dengan ceria duduk dalam becak terbuka menyusuri jl. Nusantara. “Lihat bulan dan bintang berlayar ikut kita.” sorak mereka. Mewah, lega, bukan sempit bahkan rasanya sejuk, melebihi AC, seru, asyik, nikmat ketimbang di dalam mobil yang tertutup, cepat, keren, aman dan nyaman. Ketika itu jalan-jalan masih sepi, tidak banyak orang yang mempunyai mobil. Orang bersepeda atau naik becak.

Kalau diingat jasanya, setiap kali istri mau melahirkan sekitar 50 tahun yang lalu, naik becak jauh-jauh kerumah sakit dan pulangnya bersama bayi pun begitu. Bertamasya dari Situ Gintung sampai Tanah Kusir naik becak lewat jalan tanah. Wow.

Putri mahkota kerajaan Muangthai, Sirindhorn ketika di Indonesia berkenan mengayuh becak, demikian pun mantan perdana menteri Trudeau, seingat saya.

Bahkan ada nyanyian dalam bahasa Belanda yang, mengangkat derajat, harkat kendaraan itu. Yang masih saya ingat adalah

“… is precies gemaakt voor twee,
heerlijk pierewaaie,
ga dan met een beca mee,
Harrewatje liefdesleer,
Satu Rupiah meneer …”

Betapa sedap jalan-jalan dengan pelan-pelan, dalam beca yang sengaja, pas dibuat untuk dua orang, dengan pacar (kap dipasang), menyusuri jalan-jalan di Jakarta dengan santai. Satu Rupiah saja tuan! Entah apa lagi. Begitulah kira-kira isinya

Di waktu itu becak dihormati. Becak adalah kendaraan kesayangan ibu-ibu rumah tangga yang belanja ke pasar, juga kebanggaan abang becaknya. Kini sudah lama divonis dilarang di Jakarta. Entahlah karena dianggap sebagai sesuatu aib yang memalukan, kambing hitam kemacetan lalulintas,.exploitation de l’homme par homme, memperkuda manusia bahkan becak dibuang untuk dijadikan rumpon dilaut. Apa becak memang benar dan patut diperlakukan begitu?

Mei 2008

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

hit counter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.