Mengenang Piala Dunia ’98
Mengenang Piala Dunia ‘98
Dalam kesebelasan Perancis ada Djorkaeff dari Armenia, Thuram dari Guadeloupe, Zidane dari Aljazair, Vieira dan Desailly keturunan Afrika, lalu ada Karembeu, Trezequet, Henry entah keturunan dari mana. Oh, mereka berjuang tidak kurang gigih dari para pemain asli asal Perancis. Seluruh dunia telah menyaksikannya. Itu tak dapat diragukan. Mereka pun memberikan yang terbaik untuk negaranya, seakan-akan mau menghaturkan rasa syukur mereka di terima, diangkat menjadi, mendapat tempat di hati warga Perancis. Betapa bahagianya mereka bisa ikut mengangkat martabat Perancis di mata dunia sepak bola.
Saya masih sempat melihat Jacques Chirac, orang nomor satu Perancis lebih dulu menjabat tangan semua pemain Brasil dan para pelatihnya dan seingat saya, merangkul dan mencium entah beberapa orang di antaranya sebagai rasa kagum pada mereka.
Ah, betapa bahagia seluruh tim Perancis itu. Tanpa dihadiahi piala yang sebenarnya pun, meraih kemenangan yang sepertinya mustahil, mengalahkan regu Brasil yang paling dikagumi, disegani dunia, itulah merupakan piala sesungguhnya, hadiah ulang tahun Perancis yang paling indah. Presiden Chirac baru kemudian, – larut dalam keharuan -, menjabat tangan dan merangkul, mencium mereka.
Oh, saya telah menyaksikan tayangan-tayangan yang menyentuh, yang lucu seperti menendang bola sampai sepatunya juga ikut terbang, ikut merasa saat mencekam, sedih, kala adu penalti, tanpa bersusah-susah pergi ke Perancis. Tak bersusah-payah membuat paspor, membeli tiket ke Perancis, menginap di hotel berbintang, berdesak-desakan nonton putaran final Sepak Bola Dunia.
Saya cukup bermodal TV yang sudah ada, rela bangun jam 2.00 dini hari untuk “berada” di Perancis dan tetap enak makan, enak tidur di rumah sendiri tanpa terlalu terganggu kegiatan sehari-hari. Hampir seluruh pertandingan yang digelar sempat saya tonton tanpa mengeluarkan uang satu sen pun, kecuali untuk iuran TV dan listrik. Nikmatnya rasanya tidak kurang dari mereka yang menghambur-hamburkan uang banyak dan berpayah-payah kesana. Ha, ha, ha.
Begitu cerita pak Arif pada saya, kenangan seorang “kaya” yang tak berduit.
Suara Karya, 25 Juli 1998