Mengenang Papinya Dan Maminya Oma
Mengenang Papinya Dan Maminya Oma
Teringat papinya dan maminya oma waktu sudah berumur 80-an, setiap minggu pergi, bukan ke Cipanas, boro-boro, tapi ke gereja GKI Gunung Sahari berdua aja naik opelet. Ngga ada yang pikir, tahu kalau buat mereka itu pesta. Mereka seperti muda aja lagi. Mungkin mereka juga engga suka, engga ngerti khotbah, tapi inget, kalau sama pacar, denger khotbah engga enak jadi enak aja.
Hebat banget! Anak-anaknya engga ada yang punya mobil, engga punya duit. Betul buat mereka itu lebih susah dan lebih berbahaya. Bayangin pasangan berumur begitu malah seperti anak kecil yang berpetualang dan pulang naik opelet mampir di rumah makan, seperti raja aja dengan uang mereka sendiri yang sedikit, engga kalah enak, nikmat dari pasangan muda bermobil dan berduit.
Papinya oma marah, membela maminya oma kalau ada anak yang kurang ajar.
Mereka sudah tidak mempunyai penghasilan sendiri, kecuali kalau mendapat rezeki nomplok dari oma yang hidup dari bikin kue. Jangan kira mereka tidak bahagia meski tidak dianterin naik mobil, tidak ditraktir di restoran hebat. Meski sudah berumur, mereka tidak membangga-banggakan pernikahan mereka yang di atas 50 tahun. Mereka berdua enak aja, tidak sedih, mengeluh, malah bangga bisa merdeka, bahagia merasa muda.
Begitu opa Johan cerita pada cucunya perempuan.
Mei 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
