Mengalami Tahun 2020?
Mengalami Tahun 2020?
Rela dan dengan segala senang hati akan saya jalankan jalan yang harus dilalui semua makhluk hidup. Boro-boro mengalami tahun 2020, baru tahun 2015 saja, saya dan banyak orang mungkin sudah tiada, banyak lagi yang sekarang muda, aktif, pada waktu itu sudah menjadi manula, sedangkan saya masih banyak ingin tahu, ingin melihat, ingin mendengar, ingin mengutarakan semua perasaan dan pikiran yang ada dalam benak. Menceritakan masa kini dan mengirim salam pada umat manusia masa amat jauh kedepan.
Bagaimana perkembangan, internet? Cicit dari cicit saya mungkin sudah cukup sekolah, kuliah, bekerja jarak jauh di rumah, padahal cicit saya sekarang saja belum lahir. Siapa lagi mau ke kantor, ke sekolah, kuliah kalau itu semua bisa dilakukan di rumah melalui internet? Alangkah besarnya penghematan di masa itu berupa waktu, gedung perkantoran, gedung sekolah, perguruan tinggi, transpor dan secara tak langsung, pengurangan kemacetan lalulintas, pengurangan polusi udara, polusi suara, penghematan buku-buku, kertas, tenaga guru, entah apa lagi. Ia mungkin sudah berkomunikasi dengan mengalih bahasakan bahasa Indonesia ke bahasa asing apa pun, melalui suatu bahasa “menengah” atau sebaliknya. Ibarat orang menukarkan uang dengan uang asing apa pun secara tak langsung melalui dolar sebagai perantara.
Bagaimana rupa obat yang diketemukan lawan kanker atau AIDS? Penyakit apa lagi yang akan menghantui umat manusia? Apa orang akan merasa lebih mudah melahirkan melalui bedah caecar saja, atau dengan melahirkan bayi sebesar jempol, atau barangkali dengan bantuan ibu buatan atau lebih canggih lagi? Lalu menentukan jenis kelamin dan tanggal kelahiran bayinya ketimbang melahirkan secara alami.
Saya juga ingin tahu bagaimana perkembangan Bola Voli dan Bola Basket yang dimonopoli pemain-pemain amat jangkung. Apa akan diadakan pertandingan menurut klasemen tinggi badan untuk menegakkan hak azasi pemain-pemain ukuran pendek, normal? Betapa saya ingin menyaksikan bagaimana kejuaraan dunia sepak bola di tahun 2100, bagaimana pesta Olimpiade, kejuaraan dunia tinju, tenis, bulutangkis dan masih banyak lagi.
Belum lagi zaman cicit dari cicit dari cicit dari cicit, …. saya. Sedapnya berlanglang buana antar planit dan menemukan umat lain, berkomunikasi serta menjalin persahabatan. Ah, masa amat jauh kedepan, mau pun masa amat jauh kebelakang, meski tidak bisa saya alami, tak bisa saya kunjungi, meski itu dimungkinkan menurut teori perjalanan dalam waktu seperti apa yang dikatakan seorang ilmuwan, Stephen Hawking, namun dengan sama menyenangkan, masa-masa itu toh bisa saya kunjungi dalam khayalan, bahkan sampai ke zaman terciptanya bumi mau pun ke zaman menjelang kiamat sekalipun, entah kalau bumi akan bertabrakan atau kehidupan sampai mati membeku karena matahari berangsur padam.
Nah, itulah sulit atau soalnya, bagaimana bahan tulisan yang bisa memuat berbuku-buku ini, bisa disingkat dalam sebuah surat pembaca?
Namun, mengapa sesali hidup pendek, terbatas ini? Saya tidak hanya bersyukur atas segala kebahagiaan, kesenangan, keindahan hidup, bahkan juga atas segala kemalangan, penderitaan, kekecewaan, kegagalan yang telah saya alami. “Apalah kebahagiaan, kesenangan jika tidak ada duka, penderitaan, kekecewaan?” kata filsuf Cina zaman dulu.
Syukur pula ada akhir . Justru karena ada akhir, hidup terasa manis, tak ternilai, hangat, dekat, hidup lebih dihayati, lebih dikenang. Bagai lagu indah yang harus berakhir, bagai cerita indah yang harus berakhir. Ah, akhir itu setetes air-mata syukur, sebutir mutiara hidup teramat indah.
Di muat di Jayakarta, 14 Januari 1998
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
