Menemukan Impiannya
Menemukan Impiannya
Kata Sang Penyair dalam lagu “Climb Every Mountain” di Indonesiakan secara bebas:Panjat setiap gunung,susuri setiap jalan,cari di atas, di setiap pelosok,seberangi setiap sungai,ikuti setiap pelangisampai menemukan impianmu.
“Maksudnya menemukan gadis, pria impiannya. Alangkah indahnya kata-kata itu”, kata saya pada pak Arif.
Pak Arif balik bercanda. “Oh, kalau diingat-ingat, berapa kali saya gagal mendapatkan gadis yang diimpikan? Eh, akhirnya saya toh paling bahagia di seluruh dunia menemukan, mendapatkan … – ssst bisiknya -, mendapatkan gadis impian lain lagi, entah yang keberapa, tanpa mencarinya susah-susah ke ujung bumi sebagaimana disanjung nyanyian itu. Mengapa harus bersedih atau sampai mempunyai pikiran bunuh diri? Suram, sedih benar kalau Tuhan hanya menyediakan hanya satu pasangan impian khusus bagi seseorang.”
“Ah, pria, wanita impian lagu indah itu hanya hidup dalam karya, khayalan, hati seorang penyair, seorang seniman. Hanya orang yang bodoh, eh, … – gila, tambah si upik – menyia-nyiakan hidupnya dengan menunggu, mencari, mengejar satu-satunya gadis, pria impian di dunia yang disangka cuma disediakan baginya. Ha, ha, ha.”
“Siapa yang selalu berhasil mengejar, keinginan, cita-cita, atau impiannya?” kata Pak Arif. “Mereka yang bercita-cita masuk perguruan tinggi negeri belum tentu bisa lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kalau dipikir, Perguruan Tinggi Swasta belum tentu kurang mutunya ketimbang Perguruan Tinggi Negara. Kenalan saya bermimpi mau menjadi insinyur sipil, eh, dapatnya fakultas jurusan mesin, mata pelajaran mana akhirnya disenanginya juga.”
“Andaikan saya menikahi gadis impian saya yang dulu, tentu hidup saya akan lain, anak-anak saya lain, istri saya lain. Belum tentu saya lebih bahagia. Andaikan saya berhasil belajar apa yang dulu diminati, diimpikan saya, belum tentu minat, impian saya yang sekarang ini, kurang menyenangkan, kurang menggairahkan. Pikir-pikir, saya tidak mau menukar kesukaan saya yang sekarang dengan kesukaan saya yang dulu, istri yang sekarang dengan istri idaman saya yang dulu.”
“Nah, apa pak Chew kecewa tidak mendapatkan gadis impian yang dulu?” bisik pak Arif menggoda. Saya tersenyum. Bagaimana anda?
Agustus Agustus 1998