Mendahulukan Yang Lemah, Kecil Itu Hormat
Mendahulukan Yang Lemah, Kecil Itu Hormat
Mendahulukan yang lemah, kecil itu hormat. Anak kecil, orang berumur didahulukan. Orang Belanda bilang “dames voor” (wanita didahulukan), induk ayam hampir tidak makan mendahulukan anak-anaknya, ayam jantan memanggil betinanya kalau menemukan makanan mendahululkan betinanya. Om Oy mendahulukan pejalan kaki, orang bersepeda kalau mengemudi mobil, seorang ayah akan membela, mendahulukan keselamatan keluarganya dalam kerusuhan.
Tapi kalau orang, siapapun yang mendahulukan, menyuruh, menghasut, memaksa, menjerumuskan, mengorbankan orang lain untuk berkelahi, berperang itu sangat tidak hormat, kecuali ia sendiri yang paling berani menghadapi di depan. Dalam cerita Mahabharata atau Iliad, para jenderallah adanya di paling depan, bukan paling aman di belakang. Kapten kapallah yang paling akhir memikirkan menyelamatkan dirinya.
Orang berumur – barangkali Angie merasa udah berumur? – boleh aja diduluin. Orang laki-laki yang merasa dirinya perempuan, tua boleh menduluin, diduluin. Opa sih, tersinggung. Memangnya Opa perempuan, orang tua?
Begitu E Mail Opa Johan pada Angie, cucu perempuannya.
Pebruari 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
