Mencemaskan Nasib Situ Cipondoh
Mencemaskan Nasib Situ Cipondoh
Sengaja, saya berlama-lama di situ Cipondoh, Tangerang, untuk “menyepi”, menjelang keputusan nasibnya ketika mulai “dikurung”, ditutup pemandangannya dengan seng.
Betapa manisnya melihat bunga teratai yang tumbuh liar di sana. Begitupun banyak bunga liar lain, tak tahu saya nama mereka. Pohon-pohon rengasnya begitu teduh. Airnya yang mengalir keselokan begitu jernih dengan ganggangnya yang begitu hijau dan bersih. Melihat puluhan itik liar beramai-ramai berterbangan mengelilingi situ itu sambil ber-uik, uik…, dan burung ayam-ayaman yang pandai berlari-lari diatas daun-daun mengambang tanaman air dan ikan betok, gabus, sepat, cupang, cenang-cenang dan yuyu dan katak dan capung, ya seluruh warga situ yang hidup damai dan bahagia. Cemas, menanti nasib firdaus ini. Kalau orang-orang memilih “memanfaatkannya”, alias menjadikannya ladang, tambang d..t, seperti nasib Pantai Kapuk, Teluk Naga, entah kapan Situ Pamulang.
Kalau diingat-ingat, baru sekitar tahun 1960, saya cukup bersepeda ke Slipi saja untuk “menyepi”, kini keindahan alamnya habis sudah. (Apa lagi sekarang di tahun 2008)
Jayakarta, 6 Juli 1994
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

Nov 20, 2009 @ 19:02:33
tuntutan zaman yang selalu berubah, secara tidak langsung akan mengorbankan hak-hak publik.
semoga tidak semakin parah
salam dari