Memilih Kaya Macam Mana?
Memilih Kaya Macam Mana?Â
Betulkah  kemiskinan  harus  diukur  hanya  dengan ukuran nilai uang, kebendaan (materi) saja? Begitu pikiran  saya  layangkan,  ketika  TV  menayangkan suatu  suku terasing di Riau. Mereka  sama  sekali
tidak terlihat menderita. Anak-anak ceria, bahagia bermain.  Orang-orang hidup di  pondok-pondok,  dilingkungan  yang  damai  dan  hijau.   Perairannya bersih, bening dan memesona.  Meski  cuma  menghuni
pondok-pondok,  kedamaian,  kebahagiaan  hidup  dilingkungan bak taman firdaus, tentu kekayaan amat besar orang-orang itu.Â
Terkenanglah taman, bak taman impian dengan kolam, suara air yang berjatuhan. Pondok bambu dan saungnya   sepertinya  mengundang:  ”Silahkan   duduk, mampir”.  Itu  ada di pameran Flora dan  Fauna  di
Lapangan  Banteng.  ”Palemburan  Sindang  Galih  - Wilujeng  Sumping” (desa Sindang Galih  -  Selamat
Datang), begitu orang disambut, disapa tulisan itu ketika  berkunjung  kesana. Â
Saya teringat orang kaya macam pak Arif.  Banyak kekayaannya tak dapat  diukur  dalam uang  berupa, betah di rumah,  kebahagiaan  kalau melihat bunga-bunganya mekar di kebun setiap pagi, mengingat sambutan gembira anjing-anjingnya  kalau pulang,  ia tak diganggu tamu, tak terikat  masuk kantor  dan mempunyai waktu luang berlimpah  untuk melakukan,  mengerjakan,  menikmati  seribu   satu kesenangannya. Meski ia cuma memiliki sepeda, naik bis, kereta api atau jalan kaki. Uang tentu juga perlu. Kata  peribahaÂsa: Uang baik kalau menghamba, tetapi buruk  jika berkuasa. Â
Tetapi  kalau  orang mengejar  dan  mengumpulkan, mendewa-dewakan uang, harta, kebendaan semata,  ia
cenderung menderita pemiskinan, pendangkalan batin dan  rohani, kata Ibu Teresa. Batinnya agung.  Ia
orang  amat kaya dalam perasaan dan kasih  sayang. Terutama kepada orang yang papa, sakit dan  menderita.Â
Dewi  Soekarno  merasa dirinya mandiri,  tidak tergantung pada orang lain, alias merdeka. Ia  tak
sudi “mengemis-ngemis”. Dan, … bisik  seseorang, ia,  seperti  Putri Diana, amat  diminati,  diganÂdrungi kaum  laki-laki,  meski  umurnya  di  atas setengah abad. Itulah kekayaannya.Â
 Saya  teringat tembang Sang Pemulung: “Dengan  kau (kekasih  alias  kekayaannya),  orang  terkaya  di
dunia sepertinya miskin dibandingku.” Â
Alangkah  besarnya kekayaan-kekayaan yang tak bisa  dinilai uang itu. Nah, memilih kaya macam mana? Yang berbentuk uang dan materi atau kekayaan yang tak berwujud, tak kasat mata? Â
“Ngga mau terjebak keharusan memilih” kata si upik.  ”Pikir, sayang  bapak, sayang ibu? Mau  dua-duanya  dong.”
Bagaimana anda?                                 Â
 Suara Karya 18 September 1996                                  Â
