Memilih Jakarta Dulu Atau Sekarang?
Memilih Jakarta Dulu Atau Sekarang?
“Pendapatan per kapita penduduk Jakarta meningkat. Orang yang hidup dibawah garis kemiskinan berkurang. Memilih Jakarta dulu atau Jakarta sekarang dengan gedung-gedung pencakar langit dan real estate-real estatenya?” kata Pak Developer.
Kalau dipikir, jangankan rumah, mobil, alat-alat rumah tangga, listrik, air PAM, TV; manusia pertama tentu penganggur, buta huruf, bahkan tidak memiliki gubuk, sehelai pakaian, satu sen pun, tetapi merekalah pemilik bumi ini. Apa mereka tergolong orang-orang yang hidup sengsara, dibawah garis kemiskinan? Rasanya tidak. Kebutuhan mereka di waktu itu begitu kecil.
Lagi pula, kemajuan tidak hanya bisa diukur berdasarkan kenaikan pendapatan per kapita, atau bertambah dan hebat-hebatnya bangunan saja. Banyak hal lain juga harus diperhitungkan, seperti misalnya kemunduran, kerusakan lingkungan, kemunduran dalam ketenangan, kesenangan hidup.
Mengenang indahnya masa lampau Pak Pensiunan berkata: “Jakarta dulu sepertinya sebuah firdaus mungil ketimbang Jakarta sekarang. Penduduknya, anak Betawi, masih bisa hidup santai. Udaranya bersih, lalulintasnya lancar, tidak bising, kalinya sedap untuk dipandang, bersih untuk mandi, enak untuk direnangi, lingkungannya asri dan burung-burung bangau, alap-alap berlayar sambil bermain, membubung tinggi, menukik, bagai pemandangan memesona di langit.
Jakarta sekarang sepertinya sudah kehilangan pesona alam sekitarnya. Diserbu, dipadati orang-orang, bagai gula yang dikerumuni semut. Jakarta memang tempat orang mencari duit, alias sukses, berikut jantungan dan stres. Lihat rumah-rumah kumuh sepanjang kali atau rel kereta api, orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. “Memilih Jakarta dulu atau Jakarta sekarang,” saya balik bertanya?
Kalau saja kemajuan tidak harus disertai pengotoran, pengorbanan lingkungan, merusak ketenangan, kesenangan hidup, tidak memacu orang, mengejar-ngejar uang secara keterlaluan. Syukur kalau kemajuan malah bisa mengembalikan, memulihkan bumi ini menjadi taman firdaus penuh kedamaian.
Jayakarta, 21 Maret 1995
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
