Memangnya Dia Orang Bukan Orang?
Memangnya Dia Orang Bukan Orang?
Cap dengan kata-kata hina, benci adalah stigma: teroris, ekstremis, komunis, pelacur, hidung belang, pezinah, … jij tau? Dia orang engga enak, disudutkan begitu. Memangnya dia orang lalu bukan orang?
Apa lagi kalau diembelin kata-kata “laki-laki hidung belang”, ik jadi malu ama jij, sebab itu engga langsung menghina kaum laki, kalau diembelin “istri peselingkuh”, apa jij engga tersinggung sebagai istri? Itu secara tak langsung menghina kaum istri, “koruptor Cina”, itu ikut menghina orang-orang Cina, atau diembelin kata-kata, Jepang, Maluku, Batak, Kristen, …
Kalau untuk memuji, menghormati, embel-embel itu boleh dipakai. Orang akan senang mendengarnya: “istri yang setia”, kaum istri merasa terhormat, “bantuan Belanda”, orang Belanda merasa disanjungin, “penyelamatnya orang Islam”, orang Islam akan bangga, …
Mengangkat-angkat orang dengan sebutan: budayawan, rohaniwan, seniman, cendekiawan, ilmuwan, selebriti, artis, hartawan, pujangga, sastrawan, darmawan, … bikin enak, bangga disebut begitu. Memangnya dia orang lalu menjadi dewa, bukan orang?
Tapi orang yang benar hebat, kehebatan, kebaikannya disembunyikan, engga diketahui orang.
Apa jij pikir?
Begitu opa Johan kata sama istrinya.
April 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
