Memahami Bahasanya
Memahami Bahasanya
Kalau orang sekedar mendengar siulan “Tuit-Tirrrrr,” ia jelas mendengar dua burung perinjak berduet, “Aku mencintaimu” sambil bermain di pohon dan saling mengejar-ngejar dari dahan ke dahan, kata pak Arif.
Kalau pohon ditebang, tanpa bersuara ia meng-aduh dan berdoa pada setiap bacokan.
Seekor kunang-kunang seakan-akan dengan bahagia menembang, “Tanpa lampu, listrik, bahan bakar, Aku membawa terang dalam diriku, Pemberian Sang Pencipta, Untuk sepanjang hidupku.”
Lebih sulit menebak, memahami bahasa manusia kata pak Arif. Kalau orang-orang mendengar ceramah atau mendengar pementasan musik klasik di gedung kesenian, pendengar sering bertepuk tangan, mungkin berpura-pura, sok pinter, mengerti, kagum.
Bahasa Pak Johan sebaliknya justru mengecil-ngecilkan dirinya dan menahan, merahasiakan pujiannya karena enggan menjilat atau mencari muka. Jika istri pak Johan berterima kasih atas suatu pemberian atau bantuan suaminya, pak Johan berkata, “Untuk bayar ik punya utang budi, kok. Apanya yang baik? Ha, ha, ha”.
Sebaliknya kalau istrinya memberi atau berbuat sesuatu yang menyenangkan dirinya, pak Johan berseloroh, “ik mau disuap, dirayu, ya?”
Kalau si Numi secara bercanda mengatakan, “Sop ini air laut dicemplungi bakso doang, bodoh”, maksudnya “sayang”. atau mengatakan “Tolong tutup pintunya, ya ‘bi” maksudnya ‘bu. Ia seenaknya berolok-olok dengan ber-elu-gue terhadap ibu, bapaknya dan tak segan-segan menaikkan kakinya ke atas kursi waktu makan meski seratus kali diperingati ibunya. Bukankah bahasa si Numi macam ini rasanya lebih akrab, bak dihadiahi … cium? Bukan untuk orang luar, melainkan untuk orang-orang paling dekat dan paling disayanginya.
Ketika nonton film Walt Disney, melihat adegan-adegan Pocahontas, wanita Indian di bagian akhir, katanya, “Numi rasanya pengen nangis, sama sekali bukan karena sedih, melainkan karena begitu indah, melihat Pocahontas begitu agung, luhur,” dengan menahan air mata yang mau keluar sekuat-kuatnya. Ya, begitu menyentuhlah film atau seni membahasakan dirinya.
Manis, indahnya seorang mempelai mesti dilihat dari apa yang terlukis dalam mata dan senyumnya, bukan dari melihat jubah atau cantik rupanya. Bahasa sepasang kekasih tidak terdengar dalam indahnya janji, melainkan mesti difahami dari besarnya pengorbanan yang direlakan hati mereka.
Dan jangan lupa, memahami bahasa penguasa, pemimpin, ya setiap orang, itu mesti dilihat dari hasil kerja, perbuatan, bukan dari kata-kata, janji-janjinya, bak melihat mutu barangnya ketimbang iklannya.
Suara Karya, 10 Maret 1999