Melihat Semut di Mata Orang …

Melihat Semut di Mata Orang … 

Di waktu 1998 ramai diusulkan;  “seseorang,  khususnya mantan presiden Soeharto yang dicurigai, sebaliknya harus bisa membuktikan bahwa asal usul kekayaannya bukan dari hasil KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).” Jika dipikir, gaji beliau begitu kecil, bila dibanding, maha tugas, tanggung jawab yang mesti beliau emban. Tetapi gaji kecil tentu bukan dalih bagi seseorang untuk boleh melakukan KKN. Jumlah yang diperkirakan dikorup, itu pun kalau nanti terbukti, mungkin tidak cukup untuk membayar, mengimbangi apa yang telah beliau lakukan selama 32 tahun,  demi bangsa dan negara.  Apa lagi kalau mengingat apa yang telah beliau derita, alami, berupa hinaan, hujatan, umpatan dari masyarakat. Jika imannya tidak amat teguh, beliau tentu sudah runtuh, ambruk secara mental. Beliau juga tidak melarikan diri ke luar negeri. Seandainya orang tahu bakal bernasib begitu, siapa yang mau menjadi presiden? 

Gencar diberitakan nasib buruk mereka  yang terpuruk dalam kemelut waktu itu, yang di PHK, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah dan keluarga-keluarga yang kekurangan sembako, apa lagi yang gelandangan.  Namun, seburuk-buruk nasib mereka, mereka masih boleh dikatakan beruntung, dibanding dengan nasib yang menimpa penderita tumor mulut sebesar dan serupa bongkah karang yang menyumpal mulut dan menutup sebelah matanya. Atau penderita penyakit kaki gajah yang pahanya membesar sampai hampir sebesar karung beras yang ditayangkan TV. Mereka tidak bisa luput, melarikan diri dari cengkeraman penyakit maut tersebut. Vonis hukuman mati pun tidak lebih menakutkan. Melihat tayangan itu si  upik berkata;

“Nah, ketimbang memikirkan, mendengar, membaca  yang ngga enak, jelek-jelek doang, lebih baik kita ramai-ramai menyibukkan diri membuka dompet amal demi menyembuhkan penderita-penderita macam itu, lebih enak membawa oleh-oleh duren Parung, mendengarkan nyanyian, guyonan si Miing, nonton video, merayakan terang bulan purnama ….” 

“Bukankah Reformasi sebaiknya berawal dari memperbaiki keburukan, kesalahan, keserakahan diri sendiri masing-masing?” kata pak Arif. “Lalu sebaliknya, justru memikirkan yang baik-baik dari orang lain, membawa selamat,  berkat, bahagia bagi sesama?  

”Andaikan kita-kita sekaya, sejaya seperti Soeharto, apa kita-kita tidak akan melakukan korupsi KKN, seakan-akan kita-kita lebih super, bersih, jujur dari beliau? Lalu apa kita-kita juga akan menuntut pada diri kita-kita sendiri untuk membuktikan hasil kekayaan kita-kita sendiri, “sekejam” seperti menuntutnya dari Soeharto? Tentu menuntut beliau adalah aman karena kita-kita tak sekaya beliau sehingga tak berisiko akan dituntut demikian. 

 “Kalau ada bukti sih, silahkan adukan yang bersalah ke pengadilan. Jangan sampai kita sibuk mengejar-ngejar kesalahan orang dan lupa, tidak melihat kesalahan diri sendiri, seperti kata pribahasa Belanda, “de splinter zien in een anders oog en niet de balk in zijn eigen”. Ibarat melihat semut dimata orang, tetapi lupa, tidak melihat gajah di mata sendiri.”  

                                                                                                        Suara Karya, 5  Nopember 1998 

Komentar orang .

Wow, simpanan 9 milyar dolar! Kalau dihitung satu persatu dengan kecepatan seperempat detik satu dolarnya, maka diperlukan 9 milyar kali seperempat detik Dihitung mencapai sekitar 75 tahun. Itupun kalau bekerja 24 jam non stop tanpa tidur, istirahat. Kalau menghitung selama 8 jam sehari, mesti disambung anak, cucu, cicit entah sampai cicit turunan ke 10 baru selesai dihitung, itupun tanpa hari minggu dan hari libur. Kalau panjangnya satu dolar 20 cm, lalu disambung satu dengan yang lainnya, panjangnya mencapai 9 milyar kali 20 cm. kalau ditumpuk dalam gepokan 100 lembar yang tingginya 1 cm, maka tumpukan itu mencapai 90 juta kali 1 cm. Silahkan anda hitung sendiri berapa juta kilometer panjangnya kalau uang itu dijabarkan dan berapa puluh ribu kilometer tingginya jika ditumpuk. 

Orang lain berkomentar.

Yah, cuma soal 9 milyar dolar yang ditulis majalah luar negeri saja diributin dan belum tentu terbukti Soeharto mempunyai simpanan uang sebesar itu. Jumlah itu toh tak dapat membeli ketenangan hidup, kesehatan, kebahagiaan, cinta seseorang bukan? Apalagi dibanding dengan nyawa seseorang. Kalau orang sampai melakukan pembunuhan atau kejahatan perang (kata mereka yang tahu), seperti Hitler atau Polpot dengan membunuh entah jutaan orang, perkara lebih pantaslah kita ributin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.