Masa Senja
Masa Senja
Masa senja, seperti juga cacat, bukanlah perintang untuk hidup sehat, bergairah dan bahagia. Sedangkan masa muda bukanlah jaminan kekebalan terhadap penyakit, kemalangan dan malapetaka.
Sakit gigi, sakit kepala, sakit perut, di masa muda maupun di masa tua, sama sakitnya dan luka hati sama pedih, sama sedih rasanya. Kematian sama menakutkan. Tidak ada seorang setua apapun pun yang rela menggantikan, “menalangi” kematian seorang muda.
Tukang buah tua yang sudah ompong, keriput dengan peci melintang mirip Mang Cepot, tinggalnya di Ciputat dan masih “berjelajah” setiap hari ke Jakarta Pusat. Suaranya kuat, wajahnya ceria, tak bersungut-sungut atau mengeluh. Ia masih suka berjoget, berpantun dan mengejar, menggoda pembantu wanita dalam canda. Dan meski ia cuma makan nasi berlauk sambal, tahu dan tempe, tak merasa ia dirinya miskin maupun tua. Namun dulu ia tentu semanis bocah kayangan di pangkuan ibunya.
Seingat saya, Helen Keller yang buta, bisu dan tuli masih bisa meraih gelar sarjana. Kalau saja ia diizinkan melihat lagi, meski hanya untuk seminggu saja. Untuk menikmati segala keindahan alam disekitarnya. Alangkah bahagianya ia, andainya itu bisa dikabulkan.
Namun, dengan segala kekurangan bekal hidup yang begitu besar, orang yang cacat, tak risi, canggung dan putus asa. Yang utuh maupun yang cacat, siapa bisa luput dari perjalanan menjadi tua? Sampai masa senja pun, sepanjang hidup, kita semua berpeluang untuk mencari dan menemukan sesuatu yang indah, berikut seribu satu keasyikan dan kebahagiaannya:
Menyambut, merayakan kebesaran setiap hari bersama umat insan di seluruh bumi; Berpesta, menikmati fajar merekah, siang yang cerah, malam berbulan dan berbintang; Mensyukuri berkat hujan, hangatnya matahari, sejuknya angin semilir; Melihat luwesnya pohon melambai, megahnya awan berarak, cantiknya danau beriak; Entah menghirup harumnya bunga mahoni, atau sayup mendengar pilunya seruling diiringi petikan kecapi; Dan makan, minum, berkarya, bekerja, bermain, bercinta, menyanyi, menari,….serta tidur nyenyak.
Sang bayi, meski hanya pandai menyusu, bukan tidak bahagia tidur dalam pelukan ibunya. Dan letih menjalani perjalanan hidup, alangkah nyaman, damainya beristirahat di pangkuan Pertiwi!
Media Indonesia, 16 Januari 1991