Manusia Lebih Dari Sekedar IQ
Manusia Lebih Dari Sekedar IQÂ
Jika  dipikir, tanpa rubrik surat  pembaca,  kapan pembaca bisa saling “bertemu” tanpa dibatasi  tempat, entah itu di Jakarta, Cirebon, Surabaya,  kemana saja surat kabar ini tersebar, juga takterikat waktu, kapan saja anda baca rubrik ini? Â
Kita jadi  bisa saling tukar pikiran,  pengalaman,  menyampaikan  kabar yang berharga. Tiadakah itu  hal yang luar biasa?
Bekerja  atau berlatih alias belajar bukanlah  kutukan, melainkan pembawa berkat. Otak semakin  dipakai semakin tajam jadinya; Suara semakin dilatih semakin indah bunyinya. Tidak seperti buatan manusia  yang semakin dipakai semakin aus, sepatu  misalnya,  ciptaan Sang Pencipta,  semakin  dipakai, semakin baik kerja- dan semakin lama ausnya.
Hentikan bekerja atau berlatih, kondisi anda  akan menurun kembali. Otak didiamkan malah menjadi tumpul.  Anggauta  tubuh yang tak  dikerjakan  bahkan menjadi lumpuh.
Jika dilakukan dengan  keengganan, bersungut-sungut, kerja, berlatih atau belajar terasa seperti kutukan; dilakukan dengan senang,  ia
malah terasa lebih ringan serta membawa hasil yang lebih memuaskan.
Ketika berumur 50 tahun, kondisi fisik saya begitu buruk sehingga berlari 800 m saja seakan-akan  merupakan Marathon. Keinginan  memiliki  kesegaran jasmani yang dipersyaratkan Dr. Cooper (mampu berlari 2,4 km dalam l2 menit) pada waktu itu, sepertinya mustahil.Â
Jangan berharap anda dapat melakukannya tanpa  latihan,  meskipun  anda baru 20 tahun.  Kini,  pada umur 60 tahun, keinginan itu sudah lama  terkabul, bahkan saya sudah sanggup berlari Marathon sesung-Â
guhnya sejauh 42,l95 km, kemampuan mana tak  pernah bisa saya percayai sebelumnya.Â
Tak terserang asma lagi, sesak nafas, sakit  kepaÂla,  diabetes, makan nikmat tanpa  pantang  garam, gula,  lemak, tanpa perlu tonikum, makanan  mewah. Tidur nyenyak tanpa pil tidur; meski  bertelanjang
dada  seharian atau mandi malam hari,  saya  tidak masuk angin atau pilek.Â
Segar, sehat menjadikan setiap hari “bercuaca” cerah, setiap makanan lezat, kerja tidak berat, Â hidup lebih nikmat.Â
Pada  hari  libur, latihan menjadi  tamasya.  Lari santai  bertamasya menyusuri kali, jalan  setapak, pematang  sawah, mendaki, memanjat  gunung  kapur; masuk  ”hutan”  mata  berpesta  melihat  rambutan,
blimbing, jambu, sawo yang menggiurkan; tiba didanau,  di  kejauhan, mata  tertarik  melihat  itik, gangsa dengan anggun “berlayar” dan ditepi, betapa manisnya melihat Hawa, bagai bunga teratai, bersaÂma  putri-putrinya asyik menyuci, mandi  dan  berÂcengkerama,  dari pada tertarik  melihat  pajangan iklan dan terganggu kebisingan ibu kota. Menyuci  tangan, membasuh muka dengan  embun,  sedangkan  dahaga mengubah air, teh,  tuak,  cincau, cendol menjadi minuman Dewata.Â
Tak ternilai berkat dari latihan-latihan itu,  malah  tak disangka-sangka, saya diberi hadiah  uang lagi, sebagai salah satu pemenang Proklamaton kelompok umur.
Dan  bagai Adam saya berkelana,  bertamasya,  berpariwisata di
Taman Eden. Anda dapat  menemukannya hanya “sejengkal” dari
kota anda tanpa  mencarinya jauh-jauh  ke ujung bumi. Taman Eden  yang  kini, sayang sekali terancam punah “dimakan” raksasa Semen, Beton, Aspal dan Polusi.
Gadis penjual jamu gendong berpotensi menjadi ratu panggung, layar perak. Memulai sebagai pengasong, anak desa, siapa  tahu, berakhir sebagai gubernur, perdana menteri, bahkan presiden.
Orang bisu-tuli saja bisa dilatih sampai  berpidaÂto, yang cacat bahkan berlatih hingga bisa melukis dengan mulut atau kaki.Â
Meski  kemajuan anda ibarat siput, hari  ini  anda memulai berlatih jalan, dalam lima tahun anda  sudah sanggup menempuh jarak Bogor-Jakarta,  Malang-Surabaya. Anda  tak  terlalu tua untuk  memulai  memperbaiki kondisi  anda. Siap untuk “jatuh”  sebelumnya  dan
siap untuk bangkit kembali. Anda jauh lebih  hebat dari dugaan anda semula.Â
Manusia bukan sekedar IQ.                Â
Dimuat Harian Mandala, 22 Agustus l990Â
* Kini di Tahun 2006 orang sudah berinternetÂ
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);
