“Madu Tetap Saja Manis, Sayang”
“Madu Tetap Saja Manis, Sayang”
Seindah, semanisnya buah pikiran, buah lamunan, buah rindu, buah hati, lebih indah, lebih manislah … “Buah bibir, buah mangga si manalagi, buah si malakama,” si upik bersenda gurau. Teringat sang Pangeran menggoda: “Madu tetap saja manis, sayang, meski orang menyebutnya pahit. Coba tebak. Siapa lebih bahagia, engkau atau aku?” Tak memberi kesempatan menjawab,Sang Pangeran berbisik pada sang Puteri, “Aku. Karena aku lebih, eh … lebih mencintaimu.”
Wow, mereka tentu bukan berlomba dalam apa yang umumnya dilombakan orang dengan bersaing, menekan, menyakitkan, menyudutkan lawannya, melainkan sebaliknya. Alangkah manisnya berlomba, bertengkar dalam membawakan kebahagiaan sebesar-besarnya bagi pasangan,teman hidupnya. Nah, semanis itulah buah kasih sayang.
Dalam surga kasih sayang, orang justru lebih berbahagia dalam membawakan bahagia, berkat, rezeki, keselamatan bagi pasangan, insan yang disayanginya.
Bagi orang yang dengki, dendam, iri, surga adalah … ”Berhasil menjatuhkan mencelakakan, eh … menjebloskan orang yang dibencinya ke dalam ‘neraka’”, si upik menjawab. April 1997, Swara (Kompas) 7 Oktober 1999
Nov 14, 2011 @ 20:38:09
oyeeeee