Luarbiasa, Berani!
Luarbiasa, Berani!
Waktu lulus SD saya kata, “kalau saja saya bisa lulus SMA, saya akan puas dan bangga.” Itu sekitar tahun ‘45. Ketika telah lulus saya merasa biasa-biasa saja. “Kalau saja saya bisa lulus menjadi sarjana yang sepertinya berat benar, saya tidak ingin apa-apa lagi.” Setelah lulus di tahun ‘59 saya tentu bahagia tapi saya merasa itu biasa-biasa saja. Kini di tahun 2009 lulusan SMA tidak ada apa-apanya. Hampir semua anak-anak muda lulus SMA. Lulus perguruan tinggi sekarang tidak terlalu sulit asal saja didukung keuangannya.
Tapi masih ada gelar-gelar yang lebih tinggi, S2, S3 seperti gelar doctor, rasanya itu begitu jauh, sulit diraih apa lagi kalau mengingat mereka yang bersaing dan lulus cum laude atau summa cum laude membuat saya merasa kecil, tidak berarti.
Dan saya menghibur diri: mungkin itu toh tidak terlalu hebat yang diluar jangkauan otak orang normal. Cuma saja orang mesti mlakukannya lebih lama, kerja lebih keras. Dan saya rela melakukannya bila itu memang mata pelajaran yang paling saya sukai dan inginkan. Selain itu pengetahuannya belum tentu lebih kurang, bahkan bisa juga lebih berbobot. Dan saya teringat program TV ‘are you smarter than a fifth grader?’(Apa anda lebih pintar dari anak SD kelas lima?) Peserta dewasa sehebat-hebatnya toh tak ada yang dapat membanggakan diri melebihi murid kelas 5.
“De druiven zijn mij te zuur, ha, ha.” Saya kata pada pak Arif. (anggur itu terlalu masam bagi saya: maksudnya pura-pura tidak suka, padahal terlalu tinggi untuk meraihnya).
“Saya pun tak ingin dibujuk, tidak rela menukar, menyia-nyiakan, menjual waktu, tenaga, kesenangan saya untuk ikut bersaing mati-matian demi memenangkan gelar tertinggi dengan predikat hebat meskipun itu ilmu pokok kesayangan saya.” Begitu kata pak Arif. “Mereka tentu sangat berbakat, mereka dipuji, di cari bagai bibit unggul dan disediakan, didukung beasiswa (‘dimenangkan’ kata mereka) untuk pendidikan lebih tinggi lagi dengan prospek bagus di masa depan. Yang penting kadar, bobot pengetahuannya. Saya bangga bila setiap kali saya berhasil melebihi diri sendiri, bukan karena melebihi orang lain.
“Dengan internet di kemudian hari, pendidikan tinggi terbuka bagi setiap orang. Tidak perlu ada lagi lomba, persaingan, gelar-gelar gemerlap. Orang suka Mozart, Beethoven, Gershwin, … karena indahnya musik mereka, bukan kalau mereka meraih gelar tertinggi di perguruan tinggi musik. Mereka tidak pernah akan bersaing. Itu begitu bodoh, begitu merendahkan. Selain itu mereka tentu tidak akan meniru satu sama lainnya.
“Berdiri atas kaki sendiri tanpa memamerkan kehebatan keberhasilan, hadiah-hadiah yang diraih, itu saya sebut hebat, berani.” Kata pak Arif.
“Atau keberanian membuka, membeberkan semua keburukan, kejahatan, perbuatan criminal diri sendiri tanpa bersembunyi atau melarikan diri, Ha, ha.” Si Buyung nyeletuk.
Dan saya lalu teringat orang-orang cacat yang bukan dikaruniai dengan kelebihan talenta otak tapi dengan kekurangan lengan, tapi tetap masih dapat melukis dengan mulut atau kaki tanpa didukung, dibantu beasiswa, keuangan fihak luar. Apa mereka tidak amat luarbiasa dan berani?
April 2009
Baca juga, Ranking
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
