Larangan, Pelajaran Hidup Se Hari-Hari
Larangan, Pelajaran Hidup Se Hari-Hari
“Awas, jangan pegang, jangan lari, jangan naik, jangan main, jangan hujan-hujanan, jangan jajan, … dan seribu satu jangan lainnya. Apa kegiatan anak-anak macam itu perbuatan salah, buruk, jahat?.Mengapa mesti dilarang? Sekarang ik dilarang naik ke tembok tinggi itu oleh si Anie. Nanti jatuh. Kalau mati. Bagaimana kalau cacat, lumpuh seumur hidup kaya ayahnya si Ida yang jatuh dari tangga?” Begitu opa Johan menggerutu di depan istrinya.
“Kenapa jij engga senang dibilangin begitu, mesti marah, berpikir negatif? Bukankah si Anie pikir positif buat jij, ayahnya punya kebaikan.” tegur istrinya.
“Orang engga salah, karena dilarang kok jadi punya rasa salah? Ik jadi serba salah, bisa jatuh beneran selagi naik ke tembok ngebersihkan daun-daun yang bisa menyumbat saluran air hujan di genteng tetangga. Jij seperti ikut nyumpahin dong.” kata suaminya.
“Tidak ada larangan orang melakukan terjun payung atau memanjat tebing yang jauh lebih berbahaya dari sekedar naik tembok itu. Belajar, berlatih aja dulu. Si Asuk, pembantu kita ketika sekitar umur 70 tahun masih rela menuruni sumur malam-malam tanpa tangga, tali, buat nyelametin ayam yang kecemplung. Kita-kita yang muda, dulu, engga berani.” Begitu kata pak Johan pada istrinya.
“Kalau jij dilarang Si Anie turun-naik tangga takut jij punya encok kambuh, bukan jij juga rasa punya salah kalau diam-diam melakukannya? Ik sih mau melatih jij, bukan sekedar diam-diam sampai bisa lari naik-turun tangga, tapi sampai jij bisa diajak naik-turun gunung Putri dan sembuh duaratus persen, cuman kalau jij mau.” pak Johan menggoda istrinya.
“Larangan bikin orang rasa punya salah, dosa, tanpa berbuat salah, tahu. Kalau cucu kita mau main api, ik ajarin dulu, apa bahayanya atau menyimpan kotak geretannya ditempat ia engga bisa ambil. Bukan dilarang, digebukin atau diomelin. Silahkan nyontek, asal jangan ketangkep tapi kalau ketangkep ik kasih dia nol. Atau ik bikin ujiannya dengan izin. nyontek dari buku dan memakai komputer sekalian.
Larangan sebaiknya dikurangi, dihilangkan. Kecuali larangan agar orang, wij punya satwa, tanaman, perairan, udara, terlindung dari kejahatan, penembakan, perusakan, pengotoran atau mungkin untuk mengatur lalulintas.
Nah, kalau jij mau masuk, tapi engga boleh, ik kunci aja pintunya, bukan pasang larangan, jij engga perlu nyolong-nyolong, ha,ha, ha. Orang toh engga bisa melarang, orang lain untuk mengingini, menyukai, membenci apa yang diingini, disukai dan dibencinya, apa jij bisa?” Begitu kata pak Johan pada istrinya.
.
Suara Karya, 28 April 1999
