Lamunan Uang Baru Rp. 50.000.-
Lamunan Uang Baru 50.000.-
Andaikan dulu tidak dikeluarkan rupiah baru dengan nilai seribu rupiah lama, apa yang akan jadinya sekarang? Tukang sampah yang gajinya 50 ribu harus dibayar sebesar 50 juta rupiah uang dulu. Manager yang gajinya satu juta mesti dibayar satu milyar. Bayangkan repotnya membawa, menghitung sekarung atau segerobak uang gaji, belum lagi kalau mau belanja.
Nah dengan dikeluarkannya uang lembaran Rp 20.000.- dan Rp 50.000.- baru, kini, kita sepertinya diingatkan bahwa sudah dekat waktunya untuk kembali siap menghadapi kemungkinan pengeluaran rupiah baru yang bernilai seribu rupiah sekarang. Secara teoretis memang masih ada nilai satu sen,(Rp. 0,01) bahkan setengah sen pun, tetapi didalam praktek, terutama di ibu kota Jakarta, jangankan pecahan Rp 10.- uang kembali sampai Rp 50.- sering tidak diberikan. Sudah bagus kalau dikembalikan dengan permen.
Pada saat itulah, kita seakan-akan merayakan promosi rupiah untuk kedua kalinya dan menjadikannya, satu rupiah baru senilai seribu rupiah sekarang atau sejuta rupiah lama. Orang kembali mengalami masa silam sebelum perang dunia ke dua. Wow, alangkah murahnya barang-barang. Beras nanti menjadi 7 picis (70 sen) per kg, naik bus kota cuma setalen (25 sen), membuat foto kopi cuma segobang (2,5 sen), cukup seperak (satu rupiah), orang bisa makan kenyang di Warteg.
Lalu, nilai rupiah yang kini berada pada kedudukan paling bawah di skala pasaran uang asing yang dimuat media massa, langsung meroket gengsinya dan menjadikan dolar U.S. harganya cuma sekitar Rp 2.-, pon Inggris Rp 3.- dan yen Jepang yang begitu kuat menjadi belum sampai 2 sen uang baru. Apa yang sepertinya tidak menjadi murah?
“Eh, tapi sayangnya, pensiun saya juga turun seperseribu kali.” tersentaklah sang pensiunan dari lamunannya. Tukang sampah yang gajinya Rp 50.000.- hanya menerima Rp 50.- dan upah minimum yang diusulkan untuk DKI Jakarta cuma Rp 4.- dalam rupiah baru.
Syukur kalau keadaan demikian menggugah sang majikan, bahwa jasa karyawannya dibayar terlalu murah, lalu membawa perbaikan. Kalau tidak? Makin terseok-seoklah gaji, upah mengejar harga-harga barang. Terpaksa istri, anak, ikut membantu ayah mencari nafkah. “Good Bye” wajib belajar dan perlindungan, kesejahteraan anak.
Bukankah harga BBM juga terpaksa dinaikkan? Lalu menyusul tarif listrik, pengangkutan, sayuran, … Untuk bisa bertahan, apa yang tidak terpaksa dinaikkan?
Tidak apa kok. Asal dalam era tinggal landas, bersama harga-harga, pensiun, upah, gaji, penghasilan, juga boleh ikut – syukur kalau lebih – mengangkasa, rakyat tetap berseri dan bahagia.
Bisnis Indonesia, 3 April 1993
