Lamunan Susah Tidur
Lamunan Susah Tidur
Andaikan saya susah tidur, akan saya obati diri dengan cara yang menyenangkan dan sederhana: bekerja dan ber-olahraga. Saya akan mengurusi dan menyirami kebun saya, tanpa bergantung pada pembantu, pompa air listrik dan dengan berolahraga lari atau jalan pagi di taman-taman kota.
Selain menyenangkan, tentu ada ”efek sampingan” yang positif, a.l. melihat betapa bahagianya tanaman- tanaman dikebun itu lalu tumbuh subur, dan berbunga, seakan-akan menghaturkan rasa syukurnya;
lalu, alangkah segar, sedapnya mandi setelah bekerja keras atau setelah berolah raga di panas matahari; lantas minum, rasanya bagai air surga, meski hanya air biasa; makan nikmat, walau hanya
dengan sambal, lalap, ikan asin, tahu atau tempe dan tidur nyaman, biar hanya diatas tikar atau bale-bale, tanpa perlu meminum pil tidur apa pun.
Sebab dibalik kerja fisik dan olahraga melelahkan tentu ada “surganya” kesehatan dan kenikmatan.
Pengalaman juga mengajarkan bahwa mengatasi susah tidur bisa dilakukan dengan memaksa diri mendengarkan pidato, ceramah, khotbah yang bertele-tele dan menjemukan, nonton wayang semalam suntuk tanpa mengerti cerita maupun bahasanya; membaca kitab undang-undang yang sulit dimengerti.
Tetapi buat apa menyengsarakan, “meracuni” hidup kita dengan begitu, jika masih ada banyak cara lain yang menyenangkan? Bukankah hidup itu suatu seni? Bagaimana tidur enak, bagaimana makan enak, bagaimana membuat hidup kita ini indah, berharga dan menyenangkan tanpa bantuan pil tidur, tonikum, vitamin atau sesuatu yang mewah?
Namun susah tidur bisa saja merupakan hadiah surgawi. Saya teringat pak Arif berkata mengenang masa Valentinnya: “Wow, senangnya tidak bisa tidur ketika saya baru berkenalan dengan si Upi.” Sedang
putri saya juga tidak bisa tidur karena begitu bahagia telah menyelamatkan anak anjing yang dibuang dan kehujanan di pinggir jalan raya.
Juni 1988,
Berita Buana 10 Juli 1996