Lamunan Sebuah Bolpen Macet

Lamunan Sebuah Bolpen Macet

Isi bolpen bekerja buruk, tintanya sulit keluar, karena rupanya sudah agak mengering. Maklum, saya sekarang sangat jarang memakainya. Kedua mesin tulis sudah saya hadiahkan pada kawan-kawan pena di daerah. Hanya dengan komputer yang tergolong paling kuno saja, kedua alat tulis mulai tersisih, apa lagi pensil batu dengan batu tulisnya dan tangkai pena dengan pen celup zaman dulu. Perubahan-perubahan itu telah saya alami dan belum lagi saya tujuh puluh tahun.

Teringatlah kurikulum pendidikan dasar yang baru. Apa masih perlu anak pandai menulis, atau malah lebih perlu pandai mengetik? Bahkan dengan kemajuan teknologi, orang tidak perlu pandai mengetik. Cukup kalau pandai berbicara saja, yang langsung bisa ditayangkan dan disulap dalam tulisan cetak.

Dan saya teringat buku tabel logaritma yang menjadi mubazir dengan adanya kalkulator. Pedagang kecil, tukang warung saja kini sudah memiliki sebuah, untuk bisa menghitung sesuatu dalam sekejap, tanpa perlu pandai-pandai, teliti-teliti berhitung. Dan bagi murid sekolah dasar, kita menciptakan suatu alat, yang bisa menyelesaikan segala macam hitungan, soal aljabar, matematika, menyediakan semua rumus, menayangkan peta geografi, letak sebuah kota yang dikehendaki.

Alangkah sedapnya jika beban hafalan, pekerjaan yang begitu besar bisa dihilangkan. Apa anak masih perlu belajar selama sembilan tahun untuk menyelesaikan pendidikan dasar? Siswa mungkin dapat menyelesaikannya dalam satu tahun, hanya dengan mengajarkan anak didik, bagaimana menggunakan sebuah komputer.

Dengan fax, pengiriman surat bisa lebih kilat dari surat kilat, bahkan dari telegram. Orang tidak perlu membeli sampul surat, perangko dan membuang waktu membawanya ke tempat pos. Pelayanan pos lambat laun menjadi tersudut.

Itu hanya sekedar beberapa contoh, betapa teknologi bisa mengubah tatanan hidup masyarakat. Betapa teknologi “membunuh” teknologi lama. Apa dengan segala kemudahan yang dihasilkan teknologi, manusia akan menjadi makin pintar, kuat? Atau malah membuatnya makin bodoh dan lemah, karena malas memakai otak dan raganya?

Dan kalau diingat, apa yang kita bilang hebat sekarang ini, atau yang paling hebat dalam beberapa puluh tahun mendatang, seperti diramalkan para ahli terkemuka, hanyalah sesuatu yang ketinggalan zaman di tahun 10.000, bagai orang naik unta ketimbang naik pesawat jet.

Dan dalam khayalan, saya melihat bahwa bumi di zaman itu begitu hijau, begitu hening dan sepi, kecuali suara kicauan burung, kecibak air, gemerisik pohon yang dihembus angin. Sesekali saya melihat seseorang. Atau apa ia makhluk angkasa luar yang mengudara seakan-akan terbang layang dengan gantole? Terbang dengan sangat lincah dan tidak pernah menabrak sesuatu, bagai kelalawar, meski terbang di tempat gelap gulita pun. Ah, senangnya berlalu-lintas di udara. Tidak terlihat adanya jalan-jalan, jalan tol, jalan layang, jembatan, rel kereta api, pelabuhan udara. Mobil, truk, kereta api, kapal, pesawat terbang dan bahan bakarnya, pabriknya sudah tidak perlu lagi. Kalau pun ada kendaraan, itu tentu kendaraan antariksa untuk keperluan lalu lintas antar planit.

Dengan rumah kapsul beraneka bentuk, tak tembus pandang dari luar seperti kaca gelap sebuah mobil, portable, ringan, bagai laba-laba yang membawa bahan pembuat jalanya, mereka bisa hidup nyaman dan berpindah-pindah. Ada yang memilih tinggal mengapung diatas danau, bergantung di udara, atau bahkan dalam bentuk keong di dalam laut. Buat apa membebankan bumi dengan jumlah penduduk yang tinggi kalau dengan kemajuan pengetahuan KB, jumlahnya, (bukan lajunya, seperti yang dewasa ini didengung-dengungkan) mudah saja bisa dikurangi?

Telah belajar menjadi bijak, beradab, – selain karya-karya seni, karya sejarah, seperti Candi Borobudur, Prambanan, Taj Mahal, Piramida, … – kota-kota, real estate, berikut gedung-gedung, jalan-jalannya dijadikan taman alam kembali demi hidup dibumi yang lebih nyaman dan indah, bukan bagi manusia saja, melainkan juga bagi seluruh umat hidup lain yang menghuninya.

Dan tersentaklah saya bahwa dewasa ini, orang-orang berpacu untuk mendirikan gedung raksasa, pabrik, real estate, perluasan kota dan pelebaran jalan. Entah, demi memenuhi kebutuhan penduduk bumi yang makin bertambah tanpa henti-hentinya, atau memanfaatkan kesempatan ini demi … “kantong saya yang tebal”. Dan karenanya, justru alam indahnya yang semula begitu hijau dan hening, dari hari ke hari makin gersang, lalu-lintas makin macet, hidup makin bising, pemerintah makin pusing.

Sekarang saja baru tahun 1994, belum tahun 10.000. Belum lagi kalau di tahun 50.000.

Berita Buana, 9 September 1994

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

site statistics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.