Lamunan Resepsi Pernikahan

Lamunan Resepsi Pernikahan

Tergugah melihat, membiarkan mereka mengundang saya. Alangkah mewah kartu undangannya yang mungkin bisa setara harga sebuah novelet. Bukan sekedar mengundang dan menjamu seorang di warteg atau di kedai di Pecenongan, melainkan mengundang dan menjamu sampai ratusan orang di gedung mewah sebangsa Manggala atau Borobudur keatas. Hidangannya? Sop kepiting, masakan udang, ikan, ayam, kalkun (!), kambing guling, sepuluh macam puding, kue tar atau es krim pengantin selebar meja setinggi plafon (!), fanta, coca cola, buah-buah, terlalu banyak untuk bisa dicoba satu per satu. Dan orang boleh makan sesuka dan sekenyang-kenyangnya, kalau dipikir, tanpa membayar lagi. Tidak heran kalau sisa makan para tamu yang tidak habis saja, tak mustahil, masih bisa menyenangkan dan mengenyangkan lebih dari seratus orang yang lapar.

Sedihnya nasib kiriman berpuluh-puluh karangan bunga yang disusun menjadi semacam papan iklan raksasa bertuliskan ucapan selamat, ketimbang menampilkan keindahan bunga-bunganya. Bagai pagar ayu yang nyaris tak dilihat, apalagi dikagumi. Lalu ditinggalkan begitu saja karena akan memerlukan bertruk-truk untuk mengangkut dan halaman luas untuk memajangnya. Yang dilihat cuma nama pengirim, demi keperluan balasan surat ucapan terima kasih. Belum lagi hadiah-hadiah indah yang menjadi mubazir. Kalau sampai dihadiahi empat mesin cuci, puluhan lusin piring misalnya, sedang yang diperlukan cukup sebuah atau selusin saja.(Sekarang, syukur di tahun 2008 sudah ada perubahan).

“Horeee! Kita ikut ketiban rezeki.” kata para petani kembang. “Trendy dan gengsi dong!” kata para eksekutif muda. “Semoga kebijaksanaan mengadakan pesta pernikahan besar-besaran, makin memasyarakat, ekonomi kita maju.” seru, sorak dalam hati, para pemilik Flower Shop, Salon Kecantikan, pengusaha pelayanan jamuan dan semua orang yang terlibat, dari pengusaha hotel-hotel berbintang lima sampai para satpam yang mengatur perparkiran mobil-mobil para tamu.

Belum lagi membangun “sarang”, beaya untuk pesta pernikahan sebesar demikian sudah menghadang pasangan itu. Kecuali bagi yang sudah berhasil membuat karier, atau kalau saja dibeayai orang tua kaya. Dan sayup-sayup teringat Kata-kata sebuah lagu: “Love, … the golden crown, that makes a man a king..” (Cintalah mahkota keemasan, yang mengangkat pria menjadi raja). Bukan pesta, bukan busana, gaun pengantin, singgasana atau pelaminannya.

“Si Bhuta yang istrinya sudah pengkor, giring” (tergila-gila pada pasangannya) kata anak saya. Si Bhuta masih pacaran setiap hari, bahagia mandi sama-sama di dalam baskom air, dilepas bisa terbang begitu tinggi bagai berkelap-kelip, lalu menukik tajam, mati ditembak orang. Diam-diam ia diratapi seluruh keluarga.

Kalau saja orang beruntung bisa mencintai bagai sepasang merpati itu. Sampai kapan pun, mereka menjadi raja dan ratu setiap hari, Yang mencintai tak pernah menjadi tua. Never Too Old To be Young. Betapa sedihnya kisah Pangeran Charles dan Putri Diana. Padahal berawal dengan pesta begitu indah bagai cerita di alam dongeng.

Andaikan, seperti Sang Begawan dan pasangannya dalam cerita Mahabharata, sepasang mempelai juga diizinkan mengubah wujud menjadi sepasang rusa untuk merayakan cinta mereka, bebas dari segala upacara dan jauh dari kerumunan khalayak ramai. Atau seperti Sam Pek dan Eng Tay terbang bahagia sebagai sepasang kupu-kupu. Dan sebagai suvenir yang akan terkenang seumur hidup, bukan cincin kawin, melainkan seorang anak, permata hati sepasang kekasih, hadiah dari Dewata. Betapa indahnya itu.

Jayakarta, 27 Januari 1994

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

site stats

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.