Lamunan Nonton TV Di Pinggir Jalan

Lamunan Nonton TV Di Pinggir Jalan 

Akhirnya saya tergusur juga dan menonton “Si  Doel Anak Sekolahan” di Pos Hansip bersama warga setem­pat di  pinggir jalan. Padahal di rumah  ada  dua televisi.  Putra-putri  saya lebih  suka  menonton
film action, film layar emas, belum lagi  kesukaan istri.  Rebutan.  Lalu siapa yang  harus  mengalah kalau acaranya bentrok? Dulu, ketika cuma ada satu stasiun TV, satu pesawat  TV  seke­luarga, sudah lebih dari cukup dan. keluarga damai.
 

Sekarang,  di zaman  banyak stasiun  TV,  memiliki dua  pesawat TV saja malah terasa  kurang.  Setiap
anggauta   keluarga  seakan-akan  terpaksa   harus dibelikan  sebuah  TV agar keluarga  tetap  rukun, damai.    Boros.  Sepertinya  sebuah  TV   menjadi tuntutan untuk dimiliki setiap anggauta  keluarga. Dan makin  maju zaman, makin pendek  daur (waktu)  hidup, dari  TV, tape recorder, komputer,  sepeda  motor, mobil, sampai gedung dan bangunan lainnya.  Karena meski  masih layak pakai, layak huni,  tokh  sudah harus  dipensiunkan, alias menjadi  rongsokan  dan dibuang  sebagai  sampah, atau  dirobohkan.  Hanya gara-gara  sudah  ada yang  lebih  canggih,  lebih menguntungkan. Itulah yang menyedihkan. 
 

Apa lagi kemasan air minum yang begitu bagus dalam gelas,  botol  plastik.  Sekali  pakai,   langsung dibuang.  Andaikan orang merasa  ”iba”,  mengingat jasa  gelas  dan botol itu,  lalu  menyimpan  atau
memakainya kembali, tentu “hidup” benda-benda  itu masih amat lama.  Lantas orang pinter akan menge­jek, bahwa orang bodoh saja yang  ketinggalan  zaman, semacam  ayah si Doel saja yang mempunyai hobi mengumpulkan “sampah” dengan memakai, memelihara oplet rongsokan  begitu. 
 

Kalau dipikir, kemasannya jauh  lebih mahal  dari  airnya. Jika hanya  untuk  minum  air saja,  saya  di  warteg tak diperkenankan membayar karena dianggap keterlaluan atau pemali.

Belum  lagi seribu satu kemasan  istimewa  semacam lunch  box  (kotak makanan) untuk  bakmi,  makanan Jepang,  dus Pizza, kotak ice cream sekali  pakai, lalu  piring, sendok, garpu, pisau,  sumpit  (alat makan Cina dari dua potong kayu) sekali pakai, … sampai  tas  ”cantik” untuk  pembelian  kosmetika, entah  apa  lagi. Dan saya teringat  nasib serupa dari  surat  kabar, majalah. Sekali  dibaca,  lalu dibuang.

 “Trendy” dong, demi pelayanan yang dituntut zaman,” kata  si  pengusaha.

“Bukan,  itu  mah  pemborosan, eh,  …  pembodohan secara halus”. kata  si  upik. “Lalu  siapa yang mesti membayar kemasan mewah  itu kalau bukan si pembeli? Sementara tumpukan  sampah makin cepat menggunung di mana-mana. Seingat saya, orang  bijak seperti Gandhi entah hanya memiliki  sebuah kacamata, sepasang  sandal,  sebuah  mangkuk  dan jubah, yang dipakainya sehari-hari“. katanya.                                        

 Pelita, 3 Agustus 1995 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.