Lamunan Mengenai Manfaat

Lamunan Mengenai Manfaat

Karena manfaat, hiu, paus diburu, hutan ditebang, pasir, batu kali dikeruk, gas, minyak bumi dibor dan disedot, kapur gunung ditambang, ikan, ternak, unggas dibudidayakan.

Oh, adakah nasib yang lebih buruk daripada dibudidayakan? Dilahirkan sebagai tawanan, menghadapi kematian lebih berat dari hukum gantung, bukan karena melakukan perbuatan pidana – dan tanpa bisa menggugat -, melainkan karena manfaat! Itulah kesalahannya!

Selain itu, apa yang tidak dimanfaatkan? Jabatan, gelar, nama, dimanfaatkan bisa menjadi iklan promosi seseorang, hasil seni dimanfaatkan menjadi komoditi yang diperjual-belikan. “Sayang kalau pantai, hutan, danau, gunung, … tidak dimanfaatkan.” Dan orang memilih membangun real estate atau proyek pariwisata, ketimbang membiarkannya bersama warga fauna dan floranya tak tersentuh.

Selama bermain sepak bola, tenis, layangan, bermain kelereng atau suatu kesenangan lainnya tidak menghasilkan duit, kegiatan itu dianggap tidak bermanfaat dan hanya menyia-nyiakan waktu, ketimbang bersekolah yang jelas manfaatnya. Sebab dengan bersekolah, modal keterampilan dan pengetahuan “ditanam” dalam diri anak didik yang kelak akan membawa buah-buahnya, menghasilkan uang.

Barang, jasa, sukses, kemakmuran, pembangunan, kemajuan, apa yang tak diukur dengan nilai uang? Manfaat sepertinya terjemahan dari “bisa dijadikan tambang duit” dan tidak jarang menjadi penyebab penderitaan sesama insan dan kerusakan bumi.

Tiada lagikah manfaat yang tidak memacu orang untuk mengejar-ngejar uang? Manfaat seperti bermain, bersenang-senang, bertamasya, mendaki gunung, membaca buku cerita, mendengarkan musik, juga belajar, meneliti, berkarya, ya, segala kegiatan yang membuat hidup ini lebih berharga untuk dihidupi, ketimbang kenyamanan hidup yang bisa diperoleh dengan uang?

Lalu manfaat tanah, laut, matahari, hujan, sungai, langit, udara, yang menguntungkan setiap insan. Memilih gunung daripada pencakar langit, danau daripada kolam renang, kicauan burung-burung, ketimbang dering weker atau telepon, merasakan sejuknya angin semilir daripada udara AC, melihat satwa hidup-hidup di alam bebas, ketimbang di sangkar atau diawetkan di musium atau diabadikan dalam lukisan, mendengar konser katak, seruling uir-uir, kecibak air atau desau, desir angin, ketimbang lalulintas bising dan deru mesin. Atau, … malah sebaliknya? Tak inginkah kita memiliki bumi yang lebih layak dihuni?

Tetapi dengan tekanan jumlah penduduk bumi yang begitu besar dan kian bertambah dari hari ke hari, apa yang tidak terpaksa menjadi korban pemanfaatan? Tak mampukah kita menurunkan jumlah penduduk bumi, jika teknologi sudah begitu tinggi sehingga sanggup mendaratkan manusia di bulan?

Berita Buana, 11 Pebruari 1993

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

hit counter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.