Lamunan Manusia Masa Depan
Lamunan Manusia Masa Depan
Menurut teori, bukan khayalan, manusia bisa pergi berpetualang dalam waktu, sebagaimana perjalanan
dalam ruang. Ke masa mendatang atau pun ke masa lampau, begitu ceramah Stephen Hawking, seorang
fisikawan di Universitas Oxford beberapa waktu yang lalu.
Andaikan manusia tahun 10 ribuan naik pesawat waktu, mendarat di Jakarta, ia tentu akan menunjuk
kemacetan lalulintas, tumpukan sampah yang menggunung, air kali yang menyerupai air got. Saya coba
membela, kalau pemerintah sudah melebarkan jalan-jalan, membuat jalan tol, meningkatkan Sumber Daya
Manusia, mengendalikan inflasi, penghijauan, … Anehnya, bagi setiap persoalan, seperti juga
persoalan tanah, pengangguran, perumahan, pendidikan, sarannya selalu agar ber-KB satu anak saja,
bukan dua atau lebih.
“Kami dapat menghidupi sampai lebih dari 100 milyar penduduk bumi kalau mau, bukan cuma 6 milyar
penduduk seperti dewasa ini. Namun, kami menghidupi sekitar satu juta penduduk saja demi kesejahteraan
dan kebahagiaan umat.” katanya.
“Camkan: karena bagi setiap anak yang tidak dilahirkan, terbukalah kesempatan, peluang, ruang
hidup yang lebih baik, lebih besar, bagi setiap manusia dan makhluk hidup lain, yang telah dilahirkan.”
Sayup-sayup saya menyadari maknanya dan terlintas bayangan, tangisan anak anjing yang
dibuang, ditinggalkan di tempat sampah, di pinggir jalan. Ketimbang harus mati kelaparan, terlantar,
dibuang, binatang peliharaan, atau manusia yang berlebihan, sebaiknya tidak dilahirkan.
“Dengan ber-KB satu anak, dalam masa satu generasi, penduduk Indonesia surut tidak tanggung-
tanggung dari hampir 200 juta menuju 100 juta, masalah-masalah tersebut diatas akan mereda. Dalam
masa dua generasi, penduduk
Indonesia menuju 50 juta. Dalam tiga generasi, tentu Jakarta akan
lengang, kalinya bersih, udaranya segar, lingkungannya menghijau, faunanya semarak kembali. Setelah
empat,
lima generasi,
Indonesia kembali menjadi sebuah permata hijau di planit bumi.” begitu
pesannya. Dan ciutlah hati saya, mengingat hutan Jawa dan Bali yang kini tinggal 9,5% saja, menurut
FAO. Itu di tahun 1995, bagaimana sekarang?.
“Kalau teori perjalanan dalam waktu benar, mengapa tidak ada manusia dari zaman masa mendatang
yang mengunjungi kami?” Saya ulangi pertanyaan yang amat mengganjal pikiran Hawking kepadanya.
“Andaikan saya benar-benar datang dari zaman 10 ribuan, tiada seorangpun yang akan percaya dan
menganggap saya pengkhayal, pembual, atau gila, termasuk kau dan Hawking sendiri.” Dan ia menghilang,
meninggalkan saya seperti sedang bermimpi, melamun.
Jayakarta, 24 Juni 1995
