Lamunan Manusia Cloning

       Lamunan Manusia Cloning 

Konon sudah ada bank sperma untuk  membudidayakan manusia varietas unggul. Kini orang  malah  sudah berhasil meng-clone domba, yakni melahirkan  domba duplikatnya,  entah  dari sebuah  jaringan   domba asalnya. Meng-clone manusia, melahirkan  duplikat, atau menggandakannya, tinggal menunggu waktu. Tetapi  apa  faedahnya bagi saya  jika  diri  saya diduplikat,  tetapi tidak menjadi muda  dan  tetap saja  menderita, sakit atau akan mati?  Dan  kalau pun  saya duplikat dari diri saya,  meski  kembali menjadi muda dan sehat, saya bukan diri saya  yang dulu.  

Tentu banyak orang menginginkan penggandaan orang-orang hebat  seperti Tyson, Einstein,  Hawking,  Gandhi, Hemingway, Picasso, entah siapa-siapa lagi.  “Mendapatkan  duplikat Liz Tailor atau  Joan  Col-lins,  dong.” si buyung berseloroh.  Atau meng-clone  Duren  Bangkok  super tanpa biji, atau ayam pedaging super tanpa tulang.” kata si buyung  mengingat hidangan ayam tanpa tulang.  

Tentu  begitu pikiran orang kalau  mau  meng-clone sapi  pesusu,  burung, ikan,  udang,  satwa  jenis super. Dan saya membatin, sedih benar nasib  clone macam
duren super tanpa biji atau ayam super  yang dibuat  sampai tak bertulang,  karena memang itu yang  diinginkan, diimpikan, diharapkan orang, lalu dimintakan perlindungan hak  ciptanya lagi.  Saya jadi teringat  ayam-ayam kampung dengan bulu-bulunya  yang  indah. Dengan  otot,  kaki,  sayap, paruh  yang kuat agar kuat berlari, bisa  terbang, berkelahi, mengeram dan mengasuh anak-anaknya yang lucu dan manis. 

Kalau sampai dilahirkan  sebagai makhluk,  manusia clone, entah hanya untuk disantap, diadu,  diperah tenaga,  otaknya,  atau diperalat;  kalau  manusia sampai  bukan dilahirkan, melainkan  “dibiak  atau dibudidayakan”  dalam lab menurut pilihan,  kehen-dak,   kepentingan,  kesenangan  orang,   golongan tertentu, lalu  sampai mesti kehilangan hak  azasi saya  dan  hak untuk  menolak  dilahirkan  sebagai clone atau duplikat.  “Kalau kita sendiri tidak ingin dihidupkan, diper-lakukan  sebagai clone, mengapa kita tega  melakukannya terhadap makhluk lain?” kata pak Arif.  

Cloning  tentu menuju penciptaan manusia,  makhluk yang bukan sekedar unggul, melainkan super.  Tahu-tahu cloning menjadi mimpi buruk karena memunahkan banyak  species lama dan menciptakan  jenis  super macam  ayam tak bertulang. Untung, ini cuma lamunan saja. Sayup-sayup  saya  teringat  pandangan  pak  Arif. “Melalui kebijakan selama berjuta-juta tahun,  Alam melengkapi  ciptaannya dengan seks, kelamin.  Agar laki-perempuan,  jantan-betina bersuka-sukaan  dan bersuka cita bersama pasangannya. Hadiah, karunia-nya demi menjamin keturunan umat insan.” katanya.                                      

Jayakarta, 8 April 1997

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts