Lamunan Ember Plastik Bekas
Lamunan Ember Plastik Bekas
Sedih melihat ember plastik manis bekas cat, yang biasa saya pakai untuk memindahkan, membawa ikan, suatu hari bukan berisi ikan, melainkan oli bekas sang Motor. Kini, ember itu, setelah berbulan-
bulan, bukan dibersihkan, dikosongkan, malah ditambah lagi sampai penuh, karena motor si buyung mesti ganti oli lagi. Rupanya ia sendiri bingung, tak tega, mau membuangnya kemana. Ke tanah, tanaman-tanamannya akan mati, ke selokan, ikan-ikannya. Kalau sampai tumpah, sulit untuk dibersihkan. Itu pun cuma, atau baru satu motor. Hitung saja danau sebesar apa harus disediakan, kalau mengingat ada jutaan motor dan mobil yang setiap tahun harus ganti oli, di Jakarta saja. Kemana bengkel mobil, orang membuang oli bekas mereka?
Maksud ingin menulis mengenai sesuatu yang menyenangkan, bukan menulis sesuatu yang menjengkelkan seperti soal membuang oli bekas yang kotor. Mengenai si Bero, anak anjing kampung kurus di Ciloto
yang menyambut, menemani kami yang sedang berpiknik. Ia begitu kelaparan. Dengan setiap bunyi “slurp”, ia seakan mengatakan “Oh, enaknya, terima kasih, terima kasih” pada kami. Dikasih, kasih
lagi. Ia makan tak henti-hentinya sampai perutnya bundar dan astaga, masih mau ia makan mangga muda. Sudah menjadi sahabat, kangen juga kami untuk melihat bagaimana keadaannya sekarang.
Atau mengenai bunyi delman yang lewat dengan kerincingan dan derap kudanya, yang sering membawa anak-anak kecil yang ramai-ramai bersukaria, bercanda didalamnya.
Atau mengenang direktur di sekolah H.B.S. yang ¨naik sepeda ke sekolahnya. Tanpa ribut-ribut, dan meski dengan wajah baret, suara serak ia tetap mengajar kami, karena semalamnya baru berhasil
membekuk seorang penodong dibantu istri yang mengikatnya. Ia biasa bekerja sampai larut malam dengan pintu terbuka. Mendengar orang ia sangka itu pak guru bahasa Indonesia yang datang. “Silahkan masuk pak,” katanya dalam bahasa Belanda tanpa menoleh. Padahal ia itu “tamu” tak diundang yang mengancamnya. Oh, betapa ia menyayangi, menghormati istrinya, meski istrinya sakit-sakitan, gemetaran, kurus. Mungkin akibat luka-luka yang dideritanya selama menjadi tahanan dalam perang dunia ke dua.
Atau mengenai kecerdikan, kesabaran ABRI. Ah, ABRI rupanya justru menunggu sampai orang-orang sudah tidak menaruh harapan, kepercayaan akan kemampuan mereka. Tak disangka-sangka, ABRI tiba-tiba melakukan operasi penyelamatan para sandera di Timika. Warga, masyarakat ikut, turut ber … suka cita.
Nah, belum lagi soal puing bekas bongkar bangunan, kemana membuangnya? Meski membayar orang, atau menyewa truk, lalu kemana orang, supir itu membuangnya tanpa mencemari tempat lain? Atau limbah deterjen, jangan lagi kalau itu limbah nuklir. Enggan, bukan hobi kalau lagi-lagi mesti menulis mengenai yang engga enak, lalu dicap orang tukang menggerutu. Silahkan anda saja yang lebih tahu dan
berminat, membayangkan, menguraikan segala sisi keburukan dan bagaimana menanggulangi masalah- masalah itu.
http:// chew.wordpress.com
Juli 1997
