Lamunan Eksploitasi Buruh Anak
Lamunan Eksploitasi Buruh Anak
Bagi orang kekurangan dan kelaparan, apa yang tidak disyukuri? Bagi tahanan perang semasa pendudukan Jepang, masakan bekicot, tikus dan “bayam” liar adalah makanan lezat. Kayu piano pun sampai dijadikan bahan bakar untuk masak.
Melarang anak bekerja demi mencegah eksploitasi buruh anak keluarga miskin tentu baik, tapi sebagaimana larangan ngebeca, melarang mereka, dirasakan seperti larangan menerima rezeki nomplok. Terpaksa mereka menjadi loper surat kabar, pengasong, pengamen, ikut membantu orang tuanya memulung dan pekerjaan lain sebangsanya. Lalu siapa menjamin kesehatan, keselamatan kerja, kesejahteraan mereka? Meski diupah sekedarnya saja, sang majikan cendrung dirasakan sebagai malaikat penolong ketimbang setan pemeras.
Orang kelaparan mana bisa ber-rekreasi atau mau memperhatikan kesenian, pendidikan? Jangankan wajib belajar, fasilitas belajar yang diberikan dengan cuma-cuma pun akan menjadi mubazir karena urusan perut.
Bagi yang kekurangan, hidup sendiri pun sudah susah, apa lagi berkeluarga dan justru yang miskin, umumnya, bagai kelinci, beranak-pinak banyak. Dan sudah pusing dengan bertambahnya jumlah anak, tentu bertambah pula masalah-masalah lain seperti pendidikan, pekerjaan, calon-calon angkatan kerja yang akan menganggur, makin jatuhlah upah, bagai jatuhnya harga pala. Wow, sedihnya nasib pala yang dibakar.
Bagi yang ber-uang, banyak anak tidak menjadi soal dan justru merekalah yang beranak sedikit. Anjing herdernya bisa setiap hari makan daging, – bukan setahun sekali seperti fakir miskin – dan sebaskom nasi, tinggal dengan majikannya di rumah gedung hanya untuk pekerjaan Satpam dan menjadi pajangan.
Bagi Adam dan Hawa, mempunyai seribu anak pun kesedikitan. “Banyak anak banyak rezeki”, kata orang dulu. Di zaman sekarang dengan penduduk entah di atas 6 milyar, satu anak saja sepertinya sudah kebanyakan.
Dan saya membayangkan ada klinik KB gratis bagi mereka serta menganjurkan mereka agar hanya memiliki satu anak saja. Keluarga mungil cendrung lebih makmur. Beban kehidupan kurang. Angkatan kerja berkurang, upah naik, pengangguran berkurang,. Keluarga makmur, hilang keharusan anak untuk bekerja, anak bisa sejahtera, bisa belajar dan bermain, pemerintah ikut senang dan bahagia. Sayangnya ini hanya ada didalam lamunan.
Jayakarta 29 Juni 1993
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
