Lamunan Dunia Suara Yang Indah
Lamunan Dunia Suara Yang Indah
“… si, do, re, do, … Itu mah siulan lagu yang keselek, kecekek.” kata seorang, meniru lagu kereta keliling es krim yang lewat. “Ada lagi yang ngider, lagunya berulang-ulang kayak piringan gramofon rusak.” ia menggerutu.
“Jangan dong. Tanpa sengaja kita dididik menjadi bodoh. Lagu buruk cenderung merusak, menumpulkan selera musik kita. Bunyinya sumbang lagi, ‘vals’ kata orang Belanda.
“Rupanya putaran pita ‘tape’ pak es krim sudah oleng. Terbiasa, kita hafal, menyukai lagu yang norak. Lalu dipasang kuat-kuat. Tidak seperti di TV, suaranya bisa dikecilkan,matikan kalau tidak menyukainya. Namun ada juga yang sopan dan enak didengar seperti es ‘C…..a’.” Begitu katanya pada saya.
“Saya jadi kangen akan permainan biola gadis cakep Mexico, Vanesse Mae. Nada-nadanya bulat, murni, sempurna.” “Kangen ama orangnya ‘kali,” si upik menggoda.
Dan saya pun mengkhayal, melamun. Ketimbang bangun dikejutkan bunyi weker, betapa sedapnya andaikan dibangunkan weker dengan bunyi kicauan burung dan berlama-lama di tempat tidur.
Lalu dipanggil dentingan halus lagu dari kotak-musik Swiss, ketimbang dipanggil dering bel, telepon. Mendengar manis, halusnya lagu kotak-musik itu, tentu membuat orang enggan, malu naik motor meraung-raung, menggelegar dengan knalpot terbuka tanpa saringan suara.
Dari pada berteriak kuat-kuat, biar si abang sate dilatih saja menjadi penyanyi opera dengan suara sekuat, setinggi Pavarotti.
Ah, sedapnya mendengar sayup-sayup potongan bambu yang digantung ber-klang-klung, atau potongan logam berdenting diembus angin, mendengar abang buah berkeliling dengan jenaka menawarkan buah-buahnya dalam pantunan, atau mendengar di kejauhan bunyi sedih suling uap tukang kue putu di malam hari, atau bunyi “tok-tok-tok” tukang bakmi, bakso, seakan-akan mengetuk-ngetuk pintu rezekinya.
Kalau mengingat ganasnya perang klakson kala terjadi kemacetan lalulintas, cobalah bunyi rangkaian nada-nada C-G-Bes-E-A-C, keatas sebagai gantinya. Biar orang yang mendengar bersenandung, bersiul-siul, mengarang-ngarang sendiri lanjutannya.
Nah, mengapa kita tidak berbisnis membangun dunia suara yang lebih lembut, mesra, indah, ketimbang membiarkan lingkungan kita tercemar, dinodai suara-suara mengejutkan, bising dan biadab?
Ekonomi Neraca 11 Juli 1997
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
