Lamunan Bacaan Waktu Santai

Lamunan “Bacaan Waktu Santai” 

“Dengan menyesal, naskah anda tidak bisa diterbitkan. Sudah terlalu banyak tulisan semacam anda yang ditulis.” kata Penerbit dengan nada-nada yang mau menghibur, membesarkan hati namun terdengar, terasa sebagai nada-nada yang mengecilkan dan menyakitkan. Tentu tidak ada penulis yang tidak merasa dilukai demikian, kecuali tulisannya itu diketahuinya memang buruk, atau penulisnya memang bukan manusia, melainkan dewa, makhluk super yang sakti atau kebal terhadap, tak dapat dilukai dengan kata-kata demikian.

“Hatiku janganlah kau resah.” begitu saya menghibur diri, mengingat kata-kata sebuah lagu indah.

Bukankah setelah setiap kali ditolak, anda bertambah maju, menjadi tambah tahu? Rancangan, desain buku itu akan bertambah baik. Kini buku itu akan memiliki lukisan jacket cover dan beberapa ilustrasi lukisan yang indah, disamping anda lebih tahu bagaimana melindungi buku itu dengan memegang Hak Ciptanya. Begitu saya memulai menghibur diri.

“Bacaan Waktu Santai” anda belum memecahkan rekor 33 kali ditolak penerbit seperti Chicken Soup For The Soul yang toh disukai amat banyak orang. Mengapa mesti resah? 

“Seribu kali kegagalan dengan rela akan saya hadapi.” teringat ucapan pak Arif. Anda akan makin tahan pukulan Lalu toh masih ada banyak jalan lain untuk menerbitkan buku itu. Kalau takut gagal, dikecewakan, disakiti, diam, duduk saja, jangan diterbitkan, batin saya.

Apalah artinya honor bagi penulis yang begitu kecil. Boro-boro mau mencari penghasilan, mencari untung dengan menulis. mengingat keengganan saya untuk menjualnya sebesar harga apapun.  

Memberi monopoli pada satu penerbit dengan menjual Hak Ciptanyanya? Tentu tidak. Saya tetap akan memegang Hak untuk memperbanyak, juga untuk terjemahannya. Takut kalau ada yang membatasi, menghalangi terbitan, penyebar luasannya. Tak dibayar pun saya sudah bahagia, kalau itu bisa membahagiakan para pembaca, kalau itu bisa  menjalin hubungan batin saya dengan mereka, meski itu hanya satu orang. Bukankah begitu kata anda? Anggap saja tulisan itu sebagai salam saya pada mereka. 

Kejam benar, kalau seseorang dianggap melanggar hak cipta, hanya untuk mengcopy tulisan-tulisan saya, karena menyukainya, lalu diancam, dihukum dan didenda, seperti umumnya ditulis di halaman awal sebuah buku.. Dengan segala senang hati akan saya memberikan izin kepada penerbit untuk memperbanyaknya. Bukankah setiap penulis akan bahagia jika orang-orang suka membaca tulisannya, ibarat seorang juru masak yang senang kalau masakannya disukai orang?  

Penolakan penerbit toh tidak membuat tulisan anda bertambah kecil atau buruk. Lalu apa untungnya, enaknya, kebanggaannya kalau buku anda diterbitkan hanya karena mempunyai, atau didukung nama besar, penulis resensi yang disewa, atau karena anda mengemis-ngemis, merayu-rayu orang agar mau menerbitkannya, seakan-akan naskah anda tidak ada harganya? Bukan inikah yang memalukan? Dukungan, upaya  tersebut toh tidak membuat tulisan anda menjadi lebih besar atau lebih indah, bukan?

Menurut ukuran anda, anda tentu seorang sukses, meski ditolak penerbit. Bukankah hasil tulisan itu harta kekayaan anda yang paling berharga? Anda toh tidak ditundukkan, dipaksakan selera pasar, masyarakat, agar meraih sukses menurut ukuran mereka?

“Eh, penolakan ini malah menjadi bahan pikiran, tulisan yang menarik.” kata si upik. Betul, saya membatin. “Dari luka, duka saya, bunga-bunga indah bersemi, berkembang,” saya menembang.

Tidak seperti lukisan, tulisan-tulisan saya itu tetap, selalu berada pada saya.. Sedih benar bagi pelukis kalau mesti berpisah dengan lukisannya hampir tanpa pernah bisa melihatnya kembali. 

Kalau perlu, anda masih dapat menerbitkannya sendiri. Apanya yang menjadi kurang, apanya yang merugi, apanya yang memalukan? Begitulah saya membisiki, meyakinkan diri dan luka itu sekarang sama sekali tidak berbekas, bak penyakit, atau luka yang sembuh, saya samasekali tidak ingat, tidak merasa, lupa bagaimana, dimana rasanya  sakit atau luka itu.                                                                                             

 Media Indonesia, 16 Desember 1999 

Catatan:  

Sekarang sudah saya menerbitkannya sendiri di Internet, meski tentu tidak sehebat hasil penerbit yang profesional yang didukung staf ahli keuangan, penyunting, korektor, illustrator, pembuat sampul buku, pencetakan, penjilidan, pemasaran, pengiklanan, penayangan di TV karena saya sendiri yang awam harus melakukan itu dalam home page saya.  

Mengingat pak Arif dulu berkata:.  “Sebuah mutiara tetap saja sama indahnya meski ia ditemukan di lumpur. Yang buruk tetap saja buruk meski dipamerkan di pameran.” saya terhibur kembali.  

Oktober 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.