Lalu Lintas Yang Lancar
Lalu Lintas Yang Lancar
“Melalui pemilihan awak kendaraan umum teladan, kita ciptakan lalulintas yang lancar, aman dan tertib di ibu kota Jakarta.”
Membaca spanduk yang terpampang di Jl. Merdeka Barat, sopir bus tersenyum dan membatin: ”Maklum, kaum lemah biasanya banyak ‘dosa’ (alias menjadi kambing hitam), padahal kendaraan pribadi juga ada yang ugal-ugalan, ngebut, pindah-pindah jalur seenaknya, menyusul dari sebelah kiri. Andaikan disediakan dua, bukan satu jalur di Kawasan Pembatasan Penumpang (KPP) untuk bus, mereka tentu akan lebih leluasa dan tertib lagi. Lagi pula, bukan orang gede, mana ada awak kendaraan umum yang menulis, membela, menyuarakan kaumnya di koran? Kalau kaum bermobil, bukan abang becak, siapa berani menyinggung, menindak?”
Kelak, jika dengan ber-KB kita berhasil mengurangi penduduk Jakarta sampai dibawah seratus ribu orang – satu anak saja setiap pasangan; karena dengan dua anak jumlah penduduk tidak turun, paling-paling tetap – dengan sendirinya tercipta lalu lintas yang lancar tanpa perlu ber-KPP lagi, meski kita ramai-ramai membeli sedan baru. Siapa masih mau menjadi supir bus, apa lagi ngebecak, siapa mau naik kendaraan umum kalau mampu membeli mobil?
Nah, menjelang masa itu, bagaimana jika kita mengangkat sepeda menjadi kendaraan pribadi? Selain lebih terjangkau masyarakat, bersepeda mengurangi risiko serangan jantung, menyehatkan, tidak menimbulkan polusi dan melancarkan lalu lintas karena jalan cukup lebar. Dengan training suit, topi jockey atau helm, mengendarai sepeda balap kelas wahid, berbadan ramping, berstang seperti tanduk, berlari seanggun rusa, anda tampil sportif, gagah dan limabelas tahun lebih muda di mata kaum Hawa, ketimbang memakai jas dan naik Mercy.
Memilih mobil, kita makin tenggelam dalam kebanjiran, kemacetan kendaraan pribadi. Apa kita ingin Jakarta nanti seperti kota Santiago yang harus melarang 40% jalan untuk lalulintas karena parahnya polusi udara?
Terbiasa, jarak Jakarta-Depok bersepeda serasa dekat. Kenalan saya yang berumur diatas setengah abad, setiap minggu bahkan berlari sejauh itu.
Jayakarta, 25 Juli 1992
