Kurikulum Yang ‘Overload’
Kurikulum Yang ‘Overload’
Materi pendidikan di sekolah sudah ‘overload’ (dibebani berlebihan) kata Mendikbud di Bina Graha, begitu diberitakan sebuah harian. Saya jadi teringat pepatah Belanda: “Niet het vele is goed, maar het goede is veel”. Bukan asal banyak, tetapi yang baik itu, (meskipun sedikit) banyak, atau besar nilainya.
Di tahun-tahun 40-an, tidak ada murid yang harus les tambahan. Siswa memiliki lebih banyak waktu senggang untuk bermain dan melakukan kesenangan, kegemaran masing-masing. Meski demikian buat saya waktu senggang selalu terasa kurang dan jumlah pelajaran sebegitu pun terlalu banyak sampai kadang-kadang terkantuk-kantuk di kelas. Syukurlah jika guru berhalangan masuk. Yang paling berkesan dan dikenang semasa itu adalah bila guru bercerita atau mengajar sebuah nyanyian di waktu santai. Rasanya bagai oasis di gurun pasir. Begitulah kalau pelajaran terlalu banyak, orang menjadi “benci”, “musuh” pelajaran.
Sekarang anak SD sudah mulai les, apa lagi jika masuk SMP/SMA. Siswa hampir tidak memeliki waktu luang karena tenggelam dalam banyak mata pelajaran dan pekerjaan rumah, kecuali bagi murid super jenius yang cukup belajar sambil mengongkang-ongkangkan kaki.
Setelah lulus, pelajaran yang tak disukai dengan segala senang hati telah saya melupakan semua, bagai kapal yang membuang balas (pemberat) berlebihan. Apa otak mau dijadkan ensiklopedi (semacam
kamus ilmu pengetahuan) hidup? Tidak tahu, saya tanya pada orang yang ahli atau lihat dikamus, di peta, malah jadi lebih diingat dan dimengerti dari pada dipaksa mengingat sesuatu yang tidak saya
minati. Lain lagi kalau disenangi, disuruh melupakan pun, tetap saja masih diingat.
Lalu, buat apa kalau tokh tidak akan dipakai? Saya pernah belajar bahasa Perancis, Cina, memiliki SIM A. Karena tak dipakai-pakai, semuanya sudah menjadi mubazir, Tetapi ibu yang hanya tinggal setahun di Australi, Inggrisnya lebih luwes dari saya yang telah belajar selama 6 tahun di sekolah, karena digunakannya sehari-hari tanpa belajar, seperti anak-anak berbahasa bahasa orang tuanya.
Alangkah senangnya belajar sekarang, meski itu pelajaran yang dulu dibenci, walau di usia lanjut, karena belajar kini bukan asal belajar sebanyak mungkin dan tidak diburu waktu, sehingga tidak menjadi beban lagi. Belajar bukan lagi suatu keharusan demi guru, demi ijazah, melainkan demi diri sendiri untuk tahu, menjadi mahir. Asyik belajar, kadang-kadang lupa tidur dan makan.
Kini saya tertarik belajar menulis dengan berguru pada para pengarang, bagaimana menyunting, berguru pada para redaktur, mengolah-ragakan mata agar bebas kaca-mata menurut “Better Eyesight without glasses”, berguru pada Dr. William H. Bates dengan penuh rasa hormat dan syukur. Kalau bersabar dan tidak cepat putus asa, saya berguru pada orang buta yang mampu membaca, menulis dan “melihat”, mengandalkan rabaan serta pendengarannya. Lain lagi raja Sulaiman yang menyerukan agar yang malas berguru pada semut. Dan pelajaran-pelajaran tak ternilai seperti itu hanya bisa saya dapati diluar bangku sekolah.
Semoga belajar bisa menjadi kesenangan, ketimbang siksaan. Siswa-siswi pun mendambakan waktu santai untuk bisa merasakan betapa indahnya hidup semasa muda.
Bisnis Indonesia 24 Maret 1992
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
