Kuis “Siapakah Aku?”
Kuis “Siapakah Aku?”
Selesai si upik menonton kuis di TV, giliran pak Arif mengajukan kuis,
“Coba tebak. ‘Siapakah aku?’ Dicuri, aku tidak berkurang. Diberikan, milikku bahkan bertambah banyak. Diinjak, aku tidak menjadi kotor. Tanpa usaha, tanpa perlu tempat penyimpanan, hartaku bertambah, namun tidak kena pajak.”
Berhari-hari, si upik menaksir, memikir, memutar otak, harta macam apa yang tak perlu tempat simpanan dan kalau dicuri, diberikan tidak berkurang. Sayup-sayup ia sadar bahwa harta yang dimaksud
jelaslah tidak berbentuk uang, materi atau harta benda. Tentu itu kekayaan, harta yang tidak kasatmata seperti segala harta, kekayaan batiniah. Itu tidak memerlukan tempat simpanan, tidak berkurang kalau diberikan atau dicuri. Itu pun kalau bisa dicuri, siapa bisa mencuri, siapa bisa mengotori? Diberikan pada sesama bahkan bertambah, karena balik, lebih membahagiakan orang yang memberikan itu.
Tanpa usaha, kekayaan itu datang dengan sendirinya. Hanya dengan memandang lukisan yang di pajang, membaca buku pinjaman, mendengar kaset dari rumah tetangga di sebelah, atau melihat pemandangan di depannya, orang sudah menambah kekayaan batinnya secara cuma-cuma.
“Maksudnya?” tanya si Buyung.
“Bisa menikmati, menemukan, menghargai keindahan musiknya, ceritanya, lukisannya, itulah kekayaan yang menjadi miliknya, bukan sekedar memiliki barang, buku, kasetnya, bloooon” kata si upik dengan manis.
Kekayaan tidak kasatmata tidak bisa dibeli, dipajak, Upik jadi ingat orang bilang: “You can buy a house but not a home”, rumah bisa dibeli, tetapi rasa betah di rumah tak dapat dibeli.
Bagai seorang detektif si upik menelusuri, melacak, memecahkan teka-teki itu. Oh, jawabannyalah:itu tentu orang yang sangat kaya. Kekayaannya saja tidak tampak, karena tidak kasatmata. Wow, tak
terbayangkan besar nilainya. Siapa tahu ia sembunyi, menyamar sebagai orang miskin, tinggal di pondok dan makan nasi dengan sambal, lalap, tempe, pepes tahu saja.
Asyik benar belajar kalau disuguhi soal macam itu yang menyalahi, melanggar, menjungkir balikkan segala rumus matematika, ilmu hitung, si upik membatin.
Juni 1997