Komentar Kecil Pemirsa
Komentar Kecil Pemirsa
Wow, asyiknya melihat cantiknya gadis, wanita dengan rambut indah yang dishampoo dalam iklan-iklan di TV. Giginya mulus, putih, tentu berkat pasta gigi. Kulit mukanya halus, tentu berkat
“Facial Cream”. tubuhnya langsing-langsing, tentu minum ”Slim and Fit” dan tentu semerbak karena memakai “Parfum de Paris”. Tetapi bagi orang kebanyakan yang tidak dikaruniai, rambut indah, wajah cantik, gigi mulus, kantong tebal, melihat tayangan keistimewaan wanita-wanita penuh “glamour” (pesona) itu terus menerus,
mungkin bisa membuat orang merasa kecil. Maklum, orang kecil bukan kelompok yang bisa diperhitungkan sebagai pembanding, apa lagi sebagai pesaing. Lalu, siapa pula yang bisa luput dari suatu ”cacat”
cepat atau lambat?
Tetapi kalau melihat orang ompong, melihat orang lumpuh dengan tongkat penyangga atau naik kursiroda, melihat orang buta yang sanggup naik bus kota atau kereta api dan berjalan sendiri, orang
tuli dan bisu berbahasa dengan isyarat tangan, tanpa merasa rendah diri, tanpa merasa canggung, penuh gairah hidup dan percaya diri, saya bahkan kembali merasa muda, bersemangat, bersyukur dan
bangga, karena sadar atas apa yang masih saya miliki, meski gigi saya sudah tidak utuh lagi, rambut menipis, memutih dan makin mirip Sukasrana. Saya masih bersepeda, bertamasya, masih kuat
berjalan dan berlari, bersemangat untuk bekerja, berencana, berselera untuk makan, memandang keindahan alam, ya, juga memandang, mengagumi keindahan … wanita, meski banyak sudah yang habis
dimakan, dikikis usia.
Pak Tile, Atun dan Mandra, bahkan menjadi kesayangan sekeluarga. Coba terka apanya yang kurang, apanya yang lebih pada mereka. Begitu seloroh Pak Pensiunan mengakhiri cerita.
Jayakarta, 10 Januari 1995
Apr 22, 2009 @ 05:08:58
Memang hidup harus disyukuri. Kita diberi nafas saja sudah lebih dari cukup. Jadi nggak usah neko-neko dech di dunia ini, daripda ingin mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara.