Kisah Induk Kucing Di Pinggir Jalan
Kisah Induk Kucing Di Pinggir Jalan
Ada induk kucing dengan tiga anaknya di bawah semak-semak di pinggir jalan. Bagaimana ia bisa menyasar kesitu? Entah karena ulah buruk manusia. Ia dengan tenang menyusui anak-anaknya, walaupun lalu-lintas ramai melewati di dekatnya, seakan-akan ia tidak menyesalkan kehilangan tempat tinggalnya semula yang aman dan tidak mengacuhkan kesusahannya. Sebab. Memang, mengapa ia harus begitu, jika harta yang paling berharga masih hidup disisinya. Seandainya ada anjing besar yang membahayakan anak-anaknya akan ia pertaruhkan nyawanya.
Kini ia telah meninggalkan anak-anaknya, entah untuk mencari tempat tinggal yang baru, entah ia meninggalkan anak-anaknya begitu saja, entah terjadi apa-apa dengannya. Tetapi ketiga anak kucing tidak mau meninggalkan tempat yang ditinggalkan induk mereka.
Bila orang mendekati, mereka menggeram. Seorang anak kecil berhasil memindahkan mereka dari pinggir jalan ke rumahnya. Mereka ditempatkan di tumpukan papan-papan tua, di mana mereka lebih aman. Di malam hari mereka baru berani keluar mengeong-ngeong memanggil induk mereka. Hujan mulai turun dan udara malam terasa dingin, tetapi induk mereka tidak datang menghangati.
Setelah beberapa hari, induknya akhirnya menemukan anak-anaknya kembali dan menyusui mereka sambil menjilati bersih segala kekotoran yang melekat di mata anak-anak kucing karena radang mata, juga segala kekotoran yang melekat di badan mereka sampai bersih.
Saya lalu jadi teringat akan kebocoran di kamar anakku yang meresahkan. Namun betapa hangatnya ia di tempat tidurnya, jika mengingat anak-anak kucing itu di pinggir jalan, lalu di bawah tumpukan papan di luar, kedinginan dan ketakutan ketika turun hujan tanpa induk mereka.
Lalu teringat segala”kebocoran” kecil yang terjadi dalam kehidupan dan saya merasa kecil membayangi induk kucing yang menghadapi segala kesusahan itu dengan tenang. Betapa besar kasih sayang induknya, yang tanpa segan-segan menjilat bersih segala kekotoran itu, sedangkan aku sudah segan jika mesti mengotori tanganku lalu mencucinya dengan sabun.
Memang, “kebocoran” dan kehilangan harta kekayaan apa yang harus diresahkan, jika jiwa anak, isteri, dan diri sendiri masih utuh? Begitu lamunan seorang ayah.
Januari 1974