Kiriman Uang Bibi Nona

             Kiriman Uang Bibi Nona  

Setelah puluhan tahun tidak bertemu, tahu-tahu datang
surat  dari bibi Nona. Saya dan adik-adik dulu, ketika masih kecil memanggilnya begitu.  

Tinggalnya di Muntok. Entah bagaimana rumahnya,  kami tidak  tahu,  mungkin juga cuma rumah kayu, karena  belum  pernah kesana.  Kabarnya ia cuma menjual buah kelapa dari  kebunnya  dan membuat kerupuk ikan untuk menghidupi diri dan anaknya. 

Seingat saya, tanpa memberi tahu sebelumnya, tahu-tahu bibi  Nona sudah datang di rumah seorang diri jauh-jauh naik kapal laut dari Muntok membawakan kerupuk dan uwa-uwa (cacing laut yang dikeringkan)  yang  amat disukai kami, anak-anak. Ibu  menawarkan  tempat tidur  di  ruang rumah utama, tetapi ia memilih  tidur  di  kamar belakang dekat kamar pembantu dan dapur.  

Kehadirannya tidak mengganggu siapa pun. Ia tidak perlu ditemani. Ia  selalu  tahu bagaimana menyibukkan diri.  Diajak  bicara,  ia bicara,  tidak diajak bicara ia diam. Ia ikut makan kalau  diajak makan.  Seandainya tak diajak makan pun ia tidak merasa  tersinggung.   

Dan  ibu mengajaknya ikut kebaktian, ikut  menyanyi,  ikutberdoa  dan ia sepertinya sama bahagia, baik kalau  memahami  maupun kalau tidak memahami apa yang dikhotbahkan pendeta. 

Maklum  di tahun 20-an itu, pendidikannya  paling-paling  setaraf kelas 3 SD kalau pun masuk sekolah. 

Berminggu-minggu ia tidak berpikir untuk pulang, tahu-tahu begitu saja  ia pamit, ingin pulang, karena mungkin kangen ke  rumahnya.  

Tanpa  membuat  rencana, dari mana mendapat uangnya  untuk  tiket kapal. Kelas dek atau geladak, dengan tempat tidur  beramai-ramai dikolong  langit dan harga yang paling murah tentunya.   

Saya  tak pernah mendengar, melihatnya minta uang, tak pernah  mendengarnya mengeluh, meski ia hampir tidak memiliki apa-apa dan telah  kehi­langan suaminya. Rupanya ia tidak merasa dirinya orang susah. 

Saya  tak pernah menulis kepadanya dan ia pun tak pernah  menulis pada  saya,  keponakannya. Tahu-tahu – kini  saya  sendiri  sudah berusia lanjut – baru menerima
surat dari bibi Nona.  Saya  langsung mencoba menerka-nerka isi
surat itu.  

“Ia tentu dalam kesulitan dan minta bantuan keuangan, Hani.” kata saya  pada  isteri. Maklum, begitulah  biasanya  kalau  didatangi orang atau
surat.   E-eh, betapa malunya saya mempunyai  pikiran, sangkaan begitu buruk terhadapnya, ketika membaca bahwa ia, orang susah,  justru  ingin  mengirim uang kepada  saya,  sarjana  yang tinggal di ibu
kota
Jakarta. Ia minta diberitahu nama dan  alamat saya yang lengkap agar tidak salah kirim. 

Dengan rasa bersalah saya menulisi dan memohon agar ia tidak  mengirimi saya uang. Seharusnya sayalah yang lebih pantas  mengiriminya  uang.  Nah, itulah susahnya kalau  menjadi  sarjanatanpa pekerjaan, tanpa penghasilan. 

Syukur,  rupanya ia berhasil dibujuk.  Hani dan saya  lega.  Yang kami terima bukan uang melainkan suatu paket kerupuk.  

Tahu-tahu setelah beberapa bulan datanglah kiriman Rp. 200.000.-, disampaikan ke rumah. Kalikan saja 30 kalau mau mengetahui nilainya sekarang. Siapa mau memberikan kami begitu banyak dan  justru dari dia, orang yang tergolong tidak punya. 

Setelah  membaca ulasan dalam suratnya, ternyata  dua kali  telah ia mengirim uang sebesar Rp. 200.000.-, aduh, bukan sekali  saja. Rupanya uang yang seharusnya ada dalam paket kerupuk telah  diam­bil orang. 

Ketika  mendengar bahwa kami hanya menerima kiriman  uang  sekali saja, bukanlah kami yang kecewa dan panik, melainkan dia,  sampai tidak  bisa  tidur, tidak enak makan.  

Maklum bibi  Nona  orangnya tidak terdidik sehingga tidak tahu kalau mengirim uang dengan poswesel  cukup aman. Ia justru mengirimnya melalui perusahaan  pen­giriman paket, agar di antar sampai  di rumah dan tidak menyusah­kan kami. 

Tidak apalah, jangan pusing-pusing kami tulis.  

Pikir kami,  boleh bertaroh, tokh hampir mustahillah jika ia bisa mendapat uang  itu kembali  kalau membayangkan keadaannya sebagai wanita lemah,  tak berpendidikan dan sudah berusia lanjut. 

Tahu-tahu  kami  lagi-lagi dikejutkan kiriman uang  Rp  200.000.- diantar ke rumah.  

Astaga, sangka kami cemas, jangan-jangan  ialah yang  menggantikan  uang  yang hilang  itu.   

Untunglah,  suratnya mengatakan  bahwa akhirnya ia berhasil menagih kembali uang  yang tak  sampai  itu. Ia bahkan lebih gembira dan bahagia  dari  kami atas  keberhasilannya.  

“Inilah uangnya. Jangan resah.” katanya, “ ini bagian  untuk  kamu,  Luki. Semoga tidak  kurang  apa-apa.”  Hasil penjualan  rumah warisan emak, ibunya atau nenek saya di  Muntok. Mengapa  ingat membagi saya, keponakannya yang tak pernah  mengurusi nenek atau membantu memelihara rumah itu? 

Tak habis terpikir kalau ada orang seperti  bibi Nona. 

“Syukur,”  kata Hani, “atap rumah kita yang sudah keropok,  lapuk sejak pindah kesini dan terancam ambruk kini telah diperbaiki dan aman  berkat uang itu. Kiriman itu sepertinya datang  dari  surga pada saat-saat yang diperlukan.” 

Di tempat tidur saya mengatakan, “Disamping  dia, saya yang fasih berbahasa Belanda, yang merasa diri orang baik-baik, berpendidikan,tiba-tiba merasa seperti besar kepala dan begitu kecil dibandingdia, bibi Nona, yang dianggap orang kecil, wanita lemah, tua danbodoh.  

Andaikan orang memuji atau mendirikan patung  baginya, oh,  ia tentu tidak akan peduli, bagaikan seekor anjing yang  tak akan peduli dikalungi bintang jasa atau dihadiahi emas atas jasa-jasa dan kesetiaannya.  

Bagaimana, … tak mampu, tak sanggup, …  dengan  kebaikan,  uang  sebanyak apa, bisa  saya  membalas  rasa  terima kasih, syukur saya?”  

Kami lama terdiam. 

“Dengan  meneruskan  kebaikannya, membawa  berkat,  bahagia  pada orang lain, Luki.” kata Hani memecah keheningan.  

“Ingat sang Penyair berkata? ‘Kau bagaikan sekuntum bunga, begitu cantik,  mulia,  nan indah.’ Ya, meski bibi  Nona  mungkin  sudah  berambut  putih,  giginya ompong,- saya sudah  sekitar  40  tahun tidak pernah jumpa dengannya – batinnya tetap cantik dan  memesona.”  

“Oh, ia malaikat Tuhan yang turun ke dunia.” kata Hani.  

                              Desember 1997

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web counter

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts