Kesempatan Emas Arif
Kesempatan Emas Arif
“Rif, coba baca iklan ini”, kata pak Agus. “Apa ‘lu enggak tertarik ikut melamar untuk dididik menjadi ‘eksekutif’ di luar negeri dan menjadi pemuda karier? Jangan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.”
“Gue mah bukan orang yang ada keistimewaannya, bukan orang elit”, sahut si Arif.
“Mungkin karena Yang Disana amat menyayangi gue, sengaja dibuatNya gue agak bodoh, sehingga tidak memberi gue kesempatan untuk menjadi orang gede, orang nomor satu. Bisa jadi, agar gue tidak dikejar-kejar orang, wartawan, tidak perlu melayani terlalu banyak undangan seminar, simposium, resepsi, memimpin rapat, dan belajar, bekerja aduhai beratnya, bila sampai diiming-iming gaji satu milyar. Takut kalau-kalau gue keburu tua, lalu meratapi masa muda yang sia-sia. Kini gue bisa bermewah-mewah dengan waktu, tidak dicari, diganggu orang. Kesempatan emas gue, menemukan, mendapatkan … si Upi. Ha, ha, ha.”
Juli 1996
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
