Kenangan Jamuan Makan

Kenangan Jamuan Makan  

Pada  suatu malam Old & New saya dijamu  makan  di restoran  kelas  wahid.  Orang-orang   berdatangan dengan mobil mewah dan disambut bagai tamu  agung. Ruang makannya gemerlap, seperti di ruang pesta di istana. Para pria-pria yang melayani, ber-jas  dan wanita-wanitanya  berpakaian  bagaikan  pramugari. Hidangan  pertama adalah udang raksasa atau  ”Lobster”  yang dihias. Kepalanya saja yang  gede  dan
menyeramkan,  tapi tak bisa dimakan.  Disusul  sop sirip  hiu,  makanan  istimewa  mahal  Cina,  lalu masakan semacam kerang, “Scallop” dengan jamur dan hiasan brocoli. Sampai giliran “Ikan Malas”,  saya
mual, karena sudah makan terlalu banyak dan  masih saja masakan baru disodorkan. Saya jadi  tersiksa. Sebagai   ”surprise” (kejutan gembira) yang  cuma-cuma, para tamu dihidangkan bunyi  terompet-terom­pet tutup tahun, yang membuat frustrasi dan  memekakkan telinga. Nah, lengkaplah derita.
 

Apanya  yang  enak? Hitung-hitung,  cuma  harganya yang “enak”. Seluruhnya Dua Ratus, … Ribu  Rupiah! (itu di akhir tahun 1994) Begitu cerita Pak Arif. 

Alangkah  jauh  lebih enaknya petai  bakar  dengan kecap,  atau  sop kaki kambing.  Nasinya  sebakul, ketimbang lauk-pauknya. Melihat masakan yang masih mengepul  dipajang di warteg,  menghirup  harumnya
masakan  di  kedai-kedai di Roxi,  di  Pecenongan, saya  menjadi  lapar,  katanya.  Andaikan   rejeki nomplok,  dikirimi  poswesel  dengan  jumlah  uang sebesar itu, saya  sekeluarga bisa dua puluh  kali pesta  makan sangat enak, ketimbang  sekali  makan disitu  yang  tidak enak. Maksudnya  tidak,  atau kurang disukai, serta terlalu berlebihan. Atau … membelikan sebuah sepeda gunung!!!
 

Maklum, kalau orang bilang, warga kecil  berselera norak, kampungan. Benar, makan di restoran sekelas ini  memang  banyak kelebihannya.  Lalu  Pak  Arif dengan  mata  jenaka  berbisik  pada  saya:  ”Yang lebih, ngga enaknya. Apalagi kalau kena bayar. Pak. Pegawai Negeri sekeluarga tentu mesti puasa  sebulan.”                                     

Jayakarta, 15 Juni 1995

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.