Kenangan Dari Pecenongan
Kenangan Dari Pecenongan
Jika hidup berada dalam sisi yang “gelap”, tentu ada sisi di balik itu yang berada dalam “terang”.
Ketika kami makan-makan di salah satu kedai di Pecenongan, seorang ibu rumah tangga berpakaian cukup rapi, menawarkan kerupuknya dalam kantong plastik besar dari meja ke meja. Orang-orang selalu menolak, begitu pun di meja kami. Dengan kecewa, lesu, menahan malu karena sampai harus “turun” sampai serendah itu, ia pergi.
Nyonya (istri) saya menggapainya kembali. Tergugah pengalaman yang serupa, ketika ia pun pernah “turun” ke jalan dan menghadapi wajah-wajah yang menolak, dingin dan angkuh, maklum keadaan keluarga kami ketika itu juga sama memrihatinkan. Dua bungkus kerupuk kami beli. Baginya, seorang ibu yang sedang susah, meski hanya berhasil memperoleh Rp. 2.000.-, terasa begitu besar, begitu nikmat dan membesarkan hati, seakan-akan hadiah dari surga.
Keadaan rumah tangga yang sedang dilanda kesusahan justru membawa berkah rasa syukur. Secercah cahaya rasa bahagia, syukur, melintas menghiasi wajahnya dan kami pun pulang bertambah kaya dengan sebuah kenangan yang indah.
Berita Buana, 19 Oktober 1993
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
