Kenangan Dari Olimpiade Beijing

Kenangan Dari Olimpiade Beijing

Hampir pasti luput dari perhatian kita. Dialah pelari Dedeh Erawati yang tiba paling akhir dalam babak penyisihan lari gawang 100 M. Setelah dengan tegang menunggu, membaca hasil catatan waktunya di score board, dia bersorak gembira karena catatan waktunya merupakan rekor baru Nasional, melampaui rekor SEA Games 2007 atas namanya sendiri(!) Meskipun tiba paling akhir, prestasinya pantas diberitakan, pantas disyukuri, pantas dibanggakan sebagaimana diberitakan Kompas 18 Agustus ‘08. Cuma dia, dua pelatihnya rekan sesama pelari, dan seorang wartawan Indonesia yang tahu dan ikut bahagia, bangga dengan prestasi itu. Dialah salah satu pahlawan kita di Beijing meski tidak menyumbangkan medali apapun.

Tanpa mengurangi hormat saya, syukur saya pada mereka yang berhasil meraih medali dan mengangkat harkat kita, itu tentu sudah diketahui, diakui, dihormati seluruh dunia.

Teringat bulutangkis dulu semasa Indonesia begitu jaya di bagian single putra. Bagian itu sepertinya dianggap kelas kakap, utama, elite, kelas terhormat. “The Magnificent Seven” kata surat kabar. Itu, di waktu bulutangkis belum dimasukkan agenda Olimpiade. Kalau single putri, double, apa lagi mixed double, itu seakan-akan bukan merupakan bagian yang bisa dibanggakan sehingga boleh saja “dihadiahi” kepada negara lain. Sekarang, kita patut bersyukur, justru merekalah (single putri, double putra dan mixed double) yang dulu sepertinya dianggap kelas lebih rendah, berhasil mengangkat martabat, harkat Indonesia di mata dunia dengan menyumbangkan medali Olimpiade, karena memang, merekalah tergolong kelas yang sederajat, sama terhormat, bukan kelas murahan.

Tapi bukan mereka sajalah yang pahlawan. Pahlawan jugalah mereka yang berjuang untuk memasukkan bulutangkis dalam agenda Olimpiade dan mempertahankannya di masa mendatang. Berkat mereka Indonesia bisa menduduki ranking yang sekarang ini. Bila tidak, kedudukan kita merosot jauh karena hanya bergantung pada mereka yang memperoleh medali dari cabang bukan bulutangkis.

Prestasi yang telah kita capai tak mungkin hasil kerja satu orang saja. Kita patut bersyukur atas dukungan, dana, kerja keras para pelatih, penyediaan fasilitas latihan, semua orang yang ikut membuat mereka sampai berhasil.

Agustus 2008

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats analysis

// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);

site statistics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.