Kenangan Bagi Bill Clinton

     Kenangan Bagi Bill Clinton                     Ah, manisnya rambut wanita yang “menyeleweng” dari
sisirannya,  atau  setangkai kembang  sepatu  yang
“mengintip”  atau “menyeleweng” keluar  dari  atas
tembok  halaman  kebunnya.  

Clinton
 juga  dituduh
media  

massa
 menyeleweng  dari  kehidupan   rumah
tangganya,  sebagai  hadiah

Natal
dan  Tahun  Baru
l994, yang akan terkenang sepanjang hidupnya.
 

Namun,  Hillary, istrinya, secara   tak  langsung,
boleh  bangga memiliki  suami yang tetap peka  dan
tidak buta terhadap keindahan, pesona  kaum  Hawa,
lagi  pula, tak mustahil,

Clinton
di lirik  banyak
wanita  cantik.  Seandainya  Clinton  tak   pernah
menyeleweng  pun,  apa  sulitnya  menyeleweng  dan
berpetualang  di alam pikirannya, dimana  istrinya
dan  tak  seorang polisi atau detektif  pun  dapat
melacaknya?
 

Syukur  ia  seorang manusia  saja,  bukan  makhluk
super  sebangsa Dewa. Bukankah, justru  karena  ia
tidak  sempurna,  ia  terasa  lebih  dekat,  lebih
akrab, lebih hangat, lebih manusiawi dengan segala
kelemahan  dan  kekurangannya?    Bagaimana  orang
bisa memahami manusia jika diri sendiri tak pernah
mengalami cobaan, kalau ia sampai terjatuh, terje-
rumus, karena godaan, rayuan buah-buah seks terla-
rang  yang  begitu  menggiurkan?  Maklum,  seorang
pertapa  tua  saja masih  bisa  tergoda  bidadari.
Sedangkan Sang Pujangga bersyair:
 

“Sejak  aku  melihatnya, ku sangka  telah  menjadi buta. Kemana pun pandanganku ku layangkan, Tiada yang terlihat, selain dia”. 

Uh,  kehidupan tentu menjadi seram, suram,  kejam,
tak  manusiawi jika yang menjadi pejabat,  polisi,
hakim, pendidik, seniman, orang-orang super  tanpa
cela. Super, dingin, penuh perhitungan, bagai  se-
perangkat komputer; tanpa kehangatan hati dan peri
rasa kemanusiaan, bagai bukan manusia lagi.
 

Melarang  manusia untuk tidak menyeleweng,  ibarat
melarang pohon menjulurkan batang-batangnya keluar
pagar.  Batang-batang yang melanggar  batas  pagar
boleh  saja dipotong, tetapi itu bukanlah  jaminan
bahwa  ia tidak akan menumbuhkannya lagi.  Manusia
bukanlah apa yang bisa dipagari  definisi-definisi
para pakar. Ia tak bisa dikurung, dijinakkan dalam
tembok-tembok  adat-istiadat, peraturan  atau  un­-
dang-undang. 

Sedih juga bagi
Clinton
yang begitu gagah dan tam-
pan.   Kalau  saja  kemampuannya  untuk  mencintai
tidak  begitu  besar  dan  bisa  dibatasi  ”pagar”
seorang istri, seperti dikehendaki  masyarakatnya.
Kalau  saja  ia  ditakdirkan  lahir  dizaman  raja
Sulaiman  yang  konon  diizinkan  memiliki   entah
beberapa  ratus istri. Jangankan  sepuluh   istri,
mempunyai   pacar gelap saja,

Clinton
ramai  digun-
jingkan.  Sedangkan bumi bertaburan  wanita-wanita
cantik,  hangat dan memesona. Bukankah kita  harus
bersyukur, atau …. meratapinya?
 

Versi Bahasa Indonesia dari Count Your Blessings Or Curse Your Fate” Bisnis
Indonesia 6 Januari 1994
   

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

site statistics

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts