Kecantikan, Kata Mereka
Kecantikan, Kata Mereka
“Cinderella mengangkat pakaian butut menjadi indah,” kata si buyung. “Pakaian butut engga bisa menyembunyikan kecantikannya.”
“Tetapi kalau orang cantik berteriak-teriak, menyumpah-nyumpah, memaki-maki, berperilaku biadab, ia menjadi norak, kampungan.” kata si upik.
“Jangankan manusia, kalau upik melihat anak-anak ayam berlindung dengan hangat, aman dan damai dibawah dekapan induknya, upik sepertinya melihat seorang ibu penuh kasih sayang bersama anak-anaknya. Upik bahkan pernah melihat seekor induk kucing tanpa ragu-ragu, tanpa merasa jijik, menjilat-jilat anak-anaknya yang kotor karena sakit mata dan mencret sampai bersih, ketimbang dengan sarung tangan, air dan sabun. Perilaku binatang yang penuh kasih sayang mengangkat mereka dari sekedar hewan menjadi makhluk berbudi dan berperasaan seperti kita.”
“Suara merdu yang merayu-rayu, mendayu-dayu dapat mengangkat seorang pesinden sepertinya menjadi bidadari dari kahyangan sehingga para bapak pun sampai termimpi-mimpi dan lupa akan anak istri.” kata seorang penggemar wayang.
“Budi bahasa yang halus, agung mengangkat orang seakan-akan menjadi malaikat.” kata pak Arif ‘Jika anda tidak mengingini anak itu, serahkan saja padaku.’ Begitu kata Ibu Teresa kepada mereka yang ingin menggugurkan kandungan mereka.
Tetapi usia tak dapat mencegah pudarnya kecantikan orang, begitu pun kecepatan, kekuatan, kepandaian, penglihatan, ingatan, rupanya. Tetapi apa yang dihimpun, dipupuk dalam rohaninya tak dibatasi umur dan menambah kekayaan, kekuatan, ya bahkan juga bisa menambah kemudaan, kecantikan rohaninya. Mulutnya harum. Batinnya cantik. Tangannya hangat. Kakinya ringan.
” Begitu pesan pak Arif.
Kompas, Swara 24 Juni 1999