Keadaan Sempit Membuat Orang Kreatif
Keadaan Sempit Membuat Orang Kreatif
Serba kurang, serba sederhana, lalu tidak semuanya menjadi serba suram, buruk, susah, menyedihkan. Ada juga keindahan, kesenangan, hikmah, keuntungannya dibalik itu.
Keadaan sempit memaksa rakyat membolak-balik setiap rupiah, menggunakan akal, memutar otak. Tidak mempunyai beaya untuk membuat jembatan besi beton, di Jl. Tanah Baru, Depok misalnya, orang diilhami untuk membuat jembatan “hidup” dengan memancang batang kayu yang menumbuhkan akar-akarnya. Selain tidak menjadi keropos karena hujan, kelak, dalam angan-angan si pencipta, ia tentu akan menjadi jembatan bagai di alam dongeng. Tiangnya menjadi pohon yang akan tampak seperti gerbang, entah sarat dihiasi dengan bunga-bunga atau buah-buah pohon itu dan akan meneduhi, mewuwungi, para penyeberangnya.
Kurangkah semangat, daya khayal, kreativitas mereka, ketimbang para insinyur yang menciptakan jembatan semanggi?
Tidak memiliki alat-alat canggih seperti waterpas, mereka menggunakan slang plastik tembus pandang berisi air untuk menetapkan tinggi yang sama dibidang tembok yang letaknya berjauhan dan tak terjangkau water-pas, mengandalkan hukum permukaan air di bejana bersambungan yang selalu sama tingginya. Siapa sangka kalau hal demikian bisa dilakukan dengan begitu sederhana, tanpa peralatan yang canggih?
Tidak seperti anak-anak orang tua berada, yang dibelikan, disediakan mainan, anak-anak rakyat kecil biasa mencipta mobil-mobilan, kereta-keretaannya sendiri dari kulit jeruk Bali, tanah lempung atau bekas peti kosong. Tidak dibelikan piano atau organ, mereka menabuh pada kaleng, sepotong besi, menggunakan batu sebagai kecrek dan membuat musik bersama dan lahirlah suatu improvisasi. Para ibu di zaman dulu ramai-ramai menumbuk padi di lesung sambil berirama. Begitupun para pemahat batu.
Keadaan sempit mendorong mereka menjadi kreatif. Tak mempunyai mainan, mereka tidak gelisah dan pandai mencari hiburan sendiri. Andaikan mereka memiliki seorang yang mau memupuk, membimbing mereka lebih lanjut, tentulah mereka akan berkembang bagai bunga padang yang dipindahkan ke kebun, yang dipupuk, tumbuh subur, lalu membalas dengan bunga-bunga yang melimpah, sebagai rasa syukur mereka.
Oktober 1993
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
