Katakan Dengan Bunga

   Katakan Dengan Bunga-Bunga

Jayakarta, 5 Juni 1998

“Say it with flowers”, katakan dengan bunga-bunga, kata orang. Apanya yang mau dikatakan dengan bunga-bunga? Ya, cinta seseorang tentunya, agar agak tersamar, supaya orang tidak menjadi salah tingkah mendengar keterbukaan “aku cinta pada mu”. Sudah terlalu sering dilakukan, ditayangkan, difilmkan, pesona membawa bunga pada kekasih sudah makin pudar, hilang. Ada banyak cara lain.

 

Orang bisa mengatakan dengan sebuah senyum, sebuah sentuhan, dengan matanya. Saya terkenang sebuah lagu yang digandrungi gadis-gadis di zaman Belanda dulu, In je ogen staat geschreven, Wat je mond niet zeggen wou. Matamu bertuliskan apa yang enggan dikatakan mulutmu.

 

Kalau si upik bersekongkol dengan si buyung. Diam-diam ia masukkan sebagian honornya di dompet, celengan ibunya. Macam itulah “bunga-bunga” si upik untuk ibunya.

 

Lain lagi pak Arif menyatakan cintanya.

Istrinya membantu menyiapkan bekal pak Arif. Ia mau bersepeda melintasi alam. Ketika bekalnya selesai dibuat, pak Arif sengaja berkata pada si Bengal, anjingnya, sambil menepuk-nepuk kepalanya, “Terima kasih, sayang,” ketimbang  mengatakan itu pada istrinya.

 

Ketika istrinya melepas pak Arif berangkat, ia lagi-lagi berkata, “Bye-bye, Bengal,” dan dengan sengaja tidak melihat istrinya. Baru dari jauh, ia menengok dan bukan melambaikan tangan, malah mengacungkan kepalnya sambil tertawa, tentu, itu membuat istrinya gemes.

 

Suatu kali  pak Arif yang baru berangkat, pulang kembali. Ada yang kelupaan katanya. “Lo, apanya yang kelupaan?”  tanya istrinya terheran-heran. ”Lupa nyium.” pak Arif nyengir, lalu setelah mencium istrinya bergegas -gegas pergi lagi.

 

Ya begitulah sifat pak Arif. Ia lebih suka menggoda, mengelitik hati, perasaan istrinya. Rasanya lebih manis, ketimbang berbasa-basi mengatakan “terima kasih ya”, membawakan bunga, atau mencium istrinya sebagaimana biasanya dilakukan orang barat. Lain, kala masih berpacaran. cium itu dicurinya tanpa merasa berdosa, karena lebih manislah “buah” curian atau “buah” larangan, katanya.

 

“Ah, siapa bilang, rugi menjadi perempuan. Tidak juga. Ibu engga kehilangan akal, kok. Pura-pura jatuh pingsan, misalnya, tetapi  ibu semprot aja dengan air ke muka bapak. Nah, dia nengok. ‘Maaf, sorry ya. Engga sengaja’. Begitulah caranya ibu bisa berkenalan dengan si brengsek.” Kenangan manis semasa pacaran hampir 50 tahun yang lalu. “Tetapi jangan bilang sama dia, nanti dia gede kepala,” istri pak Arif berbisik pada saya.

 

Bukan berarti bahwa suami, istri itu tidak bertengkar dan selalu rukun. Oh, mereka tidak sekedar bertengkar, melainkan berperang. Bukan perang mulut, melainkan perang dingin. Kalau saat damai diambang pintu, pak Arif mulai pembicaraan, “Nasinya pahit sih?” Lalu tawa yang ditahan-tahannya lepas, bagai air yang bendungannya jebol. “Ya, sepahit, sehitam hatimu,” istrinya balas menggoda. Macam itulah “kecupan” damai pak Arif.

 

“Ah, betapa manisnya damai setelah berperang dahsyat. Mau rasanya sering-sering lagi berperang demi merasakan manisnya damai itu,” pak Arif berbisik pada saya.

 

                                                                                                        Jayakarta 5 Juni 1998

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

traffic analytics

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts