Kalau Warga Kecil Naik Taksi
Kalau Warga Kecil Naik Taksi
“Betul, apa yang ditulis seorang pembaca di sebuah koran, ‘menumpang kereta Jabotabek, jauh dibawah garis kenyamanan’.” pak Tabah, yang baru hijrah dari daerah, membenarkan penulis itu.
“Kalau mau nyaman, naik taksi, lebih nyaman lagi naik taksi AC..” Pak Arif, kawan sekantor menyahutnya.
Setelah menerima gaji, pak Tabah lalu pulang naik taksi AC dari kantornya di Jakarta ke Bekasi. Alangkah nyamannya. “Pir, angka-angka apa itu yang berputar begitu cepat?”
“Angka-angka argo-meter. Maksudnya untuk mengetahui berapa beaya yang harus dibayar penumpang.”
Sebentar saja argo-meter melonjak Rp 1.000.–, 2.000.-, 3.000.–,… Belum lagi sampai Pulogadung argo-meter menunjuk Rp. 20.000.-. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Dengan setiap kenaikan Rp.1.000.-, ia seakan-akan menebar, menerbangkan uang ribuan, uang gaji yang ia peroleh dengan susah payah selama bekerja sebulan.
Oh, alangkah panjang, macetnya perjalanan itu. Alangkah makin sengsara, membara tempat duduknya itu. Dan teringatlah ia, betapa mulus, sedap, sejuk dan nyamannya naik kereta Jabotabek, ketimbang naik taksi. Meski panas, penuh sesak. Ah, bukan penuh sesak, malah “harus siap dorong-dorongan, injak-injakan, tempel-tempelan”, kata si penulis di koran.
Di tempat pemondokan di Bekasi ia hitung-hitung telah mengeluarkan lebih dari delapan kali lipat harga abonemen kereta api. Kantongnya jebol. Sepertiga gajinya telah ludes untuk naik taksi ber-AC. Biasa makan siang di warteg, kini terpaksa ia membawa bekal nasi AMPERA sebagaimana Amanat Penderitaan Rakyat.
Kapok, ia kembali menjadi pelanggan kereta Jabotabek. Nah, itulah sebabnya mengapa warga kecil jauh lebih senang, lebih bahagia, jika naik bus atau kereta api.
Jayakarta 10 Desember l994
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
