Kala Memasuki Zaman Teknologi Tinggi

Kala Memasuki Zaman Teknologi Tinggi

  “Konon  pemeo penelitian zaman industri raksasa berteknologi tinggi begini: Tia­da hari minggu.  Riset 24 jam sehari,  7 hari  seminggu!. Setiap dua tahun produsen sudah harus membuat mobil  model baru,  malah sejak  produk  baru komputer yang baru mau dipasarkan, model yang lebih baru sudah harus ada, karena daur (waktu) hidup suatu produk makin  singkat.  Lalu keharusan mutlak meningkatkan iklim  Prestasi Pertumbuhan Produktivitas  Nasional  dari  hari ke hari.”   

Begitu dikabarkan sebuah koran ibu  kota terkemuka dengan bangga, keren, seakan-akan mau mengimbau bahwa ini yang perlu diwujudkan demi kemajuan. “Perang” bisnis makin  dahsyat dan meluas, mendunia. Manusia sepertinya dididik untuk kelak menjadi robot, alat, barang, dengan produktivitas tinggi.  

“Waduh! Jika  kesejahteraan,  kenyamanan dizaman itu  harus diperoleh  dengan kerja begitu kejam dan keras  la­yaknya  mesin saja,  saya mengungsi dan sebaliknya, akan  menjadikan setiap hari menjadi hari libur. Tiada hari tanpa libur. Bersantai 24 jam sehari. 7 hari libur seminggu!!!” Pak Arif berseloroh.. 

“Lalu tinggal dilembah indah Cinangka yang dilalui kali Pasanggrahan, macul, menanam talas, kacang tanah, nangka,  manggis,  nyawah,  ngangon kerbau, belajar main kecapi dan kembali menjadi orang bodoh, ketimbang  menjadi  ‘robot’ pintar  yang menghuni  rimba beton, pencakar langit beriklim teknologi tinggi.               

Kalau mau juga, membuat  teknologi tinggi yang sanggup membuat  orang  cukup  bekerja sehari  seminggu  untuk menghidupi keluarga bahkan masih cukup untuk berta­masya ke luar negeri. Membuat murid, mahasiswa cukup sekolah, kuliah sehari seminggu  untuk menjadi amat pandai dan masih  bisa lulus jauh sebelum waktunya.  Lalu, teknologi yang melenyapkan kemiskinan dari muka bumi,  membuat hidup lebih baha­gia, membangun dunia yang lebih menyenangkan, lebih hijau,lebih asri. 

Bukan teknologi tinggi yang membuat orang sibuk  menekan, memangsa,  membunuh  sesama insan  dalam persaingan, perlombaan  yang tak  bisa diterima akal sehat.” Katanya.                   

Jayakarta, 13 Oktober 1992

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers