Kala Koran Terbit Hari Libur
Kala Koran Terbit Hari Libur
7 April 1996, adalah hari Paskah. Hampir semua surat kabar Jakarta terbit sebagaimana biasa. Apa hari Paskah sudah bukan hari libur lagi? Apa koran juga akan terbit pada hari libur sebagaimana disarankan seorang di sebuah surat kabar terkemuka? Katanya demi membentuk suatu “learning society”, masyarakat terpelajar yang gemar membaca dan meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM).
“Boleh saja, tetapi apa itu perlu,” kata pak Arif. “Saya mah, tidak habis membaca seluruh isi koran dalam seminggu, ibarat dihidangkan rupa-rupa makanan semeja, yang dimakan cukup sepiring saja dan sisanya dibuang,.
Bukankah kita bersyukur bahwa kita sudah mencanangkan lima hari kerja seminggu? Jika koran terbit pada hari libur, kapan loper, agen koran bisa libur? Ya, tentu banyak pembaca juga ingin libur dan bebas dari ‘kewajiban’ membaca koran untuk bisa melupakan segala pemberitaan, masalah, sejenak dan mempunyai waktu luang untuk nyepi, kesempatan untuk sekolah, belajar menjadi bijak dan mawas diri.” kata pak Arif..
Teringat sebuah cerita lama.
Empat bersaudara merantau ingin memperlihatkan ke pintaran, keahlian mereka. Tiga di antaranya hebat dalam ilmu pengetahuan, yang satunya. Si Bodoh, tidak berilmu selain mempunyai akal sehat saja. Ia diolok-olok, dibujuk untuk pulang saja karena akan memalukan mereka tapi satu di antara mereka membelanya, agar ia dibiarkan ikut serta karena dari kecilpun mereka selalu bersama.
Dalam perjalanan mereka menemukan tulang-belulang seekor singa. Mereka masing-masing memperlihatkan kehebatan ilmu mereka. Yang pertama menyusun tulang-belulangnya kembali. Yang kedua melengkapi tulang-belulang itu dengan daging.
Ketika yang ketiga siap menghidupi singa itu, Si Bodoh berseru: “Stop, tunggu dulu. Itu kan seekor singa. Jika dihidupkan tentu ia akan memangsa kita.” Ia malah ditertawai saudara-saudaranya. “Tunggu sebentar, saya mau naik pohon dulu.” katanya Singa itu lalu dihidupkan dan menerkam ketiga saudara yang pintar itu sedangkan Si Bodoh yang mempunyai akal sehat saja selamat..
Sementara orang pintar mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pengetahuan, keahliannya untuk berlomba membuat persenjataan yang makin canggih, makin maut, sebangsa senjata dengan peluru kendali nuklir. Orang bijak seperti Gandhi memilih berjuang, berperang tanpa senjata, tanpa kekerasan dan mengalihkan, mengubah mesin perang, mesin pembunuh massal itu demi kesejahteraan rakyatnya.
Kepintaran, ilmu pengetahuan bukan tidak baik, tapi kalau tidak dikendalikan akal sehat atau kebijakan bisa membahayakan,
April 1996