Kala Hidup Serba Kurang
Kala Hidup Serba Kurang
Wow, betapa manisnya hidup, ketika saya, mahasiswa yang sudah berkeluarga, meski dalam keadaan sempit dan sedang menganggur.
Berbulan madu meski bersepeda boncengan, naik truk, sado, bus, dan menginap di losmen, di “istana” menyeramkan, berkeliling
Bali.
Betah menunggu hujan meski cuma di kedai pinggir jalan sambil makan berdua sepiring ketoprak, sampai habis, bersih.
Betapa hangatnya tidur bersama meski ditempat tidur sempit berklambu gantung satu orang.
Tak beruang, keadaan terjepit, menanti beaya bayi lahir. Alangkah leganya ketika pas menerima gaji pertama berkat mendapat pekerjaan.
Menghitung bersama uang di tempat tidur dengan pintu dan jendela tertutup. Rezeki nomplok, bagai jatuh dari surga, jerih payah istri menjual perhiasan sebagai perantara.
Membawa pulang sedikit uang belanja, hasil penjualan kue bikinan “dalam negeri” (buatan istri), lebih manis rasanya dari membawa gaji.
Susu tidak diminum lagi, melainkan disendoki, dimakan, dinikmati, bagai es krim.
Melihat si upik dengan ceria menebar, menerbangkan honornya bagai bunga-bunga yang berjatuhan di hadapan ibunya.
Mengenang Si Sulung yang bangga, bahagia membeli sepeda motor “butut”, dengan mengerahkan seluruh isi celengan, serta keragaman anggauta keluarga yang merelakan, menyediakan kekurangannya.
Tak merasa miskin. Ah, mengapa bersedih, mengeluh, menyesali, membenci hidup ketika hidup serba kurang? Ketika sama-sama membagi rezeki, kesenangan, bahagia dan sama-sama memikul, meringankan beban, derita.
Harian Ekonomi Neraca, 17 Januari 1997