Jij Jangan Marah Nih
Jij Jangan Marah Nih
Jij jangan marah nih. Tiba-tiba aja ik inget lagi setelah dua-tiga tahun yang lalu itu gadis penjual jamu gendong. Dia begitu muda, manis bener, dia bisa menjadi cucu ik. Dia naik angkot bersama-sama, mau pulang ke kampungnya waktu ik dalam perjalanan ke Tenjolaya di pegunungan. Ik engga pernah jumpa penjual jamu gendong didalam angkot, jij tahu?.
Dia duduk, diam aja, sendiri di pojok bagai bunga. Dia begitu manis, ik jadi engga berani. Coba kalau ik berani sengaja beli satu cangkir jamu di angkot dan membiarkan uang kembalinya untuk dia, betapa bahagia dia bisa bawa pulang dia punya sedikit tambahan rezeki. Ik jadi menyesel, baru ingat kalau udah terlambat. Memang lebih gampang kalau melakukan sesuatu dalam pikiran dari pada bener-beneran. Padahal ik engga pernah menyesel, jij tahu.
Begitu Opa Johan cerita pada istrinya.
Januari 2010
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
