Ironi Kehidupan
Ironi Kehidupan
Kalau dipikir, betapa bodoh, malas dan takutnya saya dulu. Dikala masih remaja, “payah”, saya paling-paling beberapa kali setahun bersepeda keluar
kota, kini pada usia senja malah setiap minggu saya bersepeda – pulang-pergi -, entah untuk bersenang-senang ke Rumpin, Wana Herang, Bojong Gede, Pelayangan, bahkan ke Mauk,
Bogor dan Leuwiliang. Tak tega saya terlalu memacu sepeda bekas saya melintasi alam dan desa.
Ketika mata masih awas saya jarang, tak tahan berlama-lama membacabuku. Kini, rajin berlatih mata membaca tanpa kaca-mata. Meski membaca menjadi lebih sulit, bermodal kesabaran, saya membaca lebih banyak, lebih nikmat dan lebih teliti dari pada waktu muda.
Tidak ada keberanian, kepercayaan diri, saya menggantungkan diri pada rumus dan menghafal di sekolah, sehingga belajar sangat tidak menyenangkan. Kini belajar menjadi suatu kesukaan, karena bebas belajar apa yang benar-benar diingini, disenangi, meski daya pikir, daya ingat saya berkurang.
Bermodal keberanian, dengan organ electone misalnya, mengandalkan telinga, saya mulai belajar harmoni musik tanpa buku, tanpa guru. Sekarang saya bangga dan senang bisa menciptakan dan memainkan musik saya sendiri, bagaikan seekor cengkerik yang bahagia dengan kerikannya, meski kerikan itu bukan kicauan kutilang.
Seharusnya saya berada dalam kondisi lebih buruk. Lucu, suatu ironi kehidupan. Kini saya dapat melebihi, mengalahkan diri saya di waktu muda dan malah bisa lebih menikmati hidup, walau tak berkantong tebal. Sayangnya, saya baru sadar, belajar menjadi bijak di usia senja. Begitu cerita saya pada pak Arif.
“Seingat saya,” begitu kata Pak Arif, “ada seorang atlet wanita yang di waktu kecil menderita semacam kelumpuhan kakinya. Seharusnya ia dalam keadaan lebih buruk dari orang yang sehat, namun ia begitu tekun berlatih untuk memulihkannya, sehingga, tak terpikir sebelumnya, berhasil menjadi pelari tercepat di olimpiade
Melbourne. Untuk mengatasi asma dengan berenang, seorang penderita tak mustahil bisa menjadi atlet jago, juara renang.
Orang ketika masih kuat, sehat, orang di waktu muda cenderung melupakan, mengabaikan pemberian Sang Kuasa. Badan, sebagai ciptaanNya, yang menghuni jantung, otak, paru-paru, ginjal, selaku “menteri” urusan dalam negeri, dilengkapi
lima pengindera untuk memantau dunia luar, tentu jauh lebih berharga dan lebih hebat dari istana, komputer dan stasiun angkasa apa pun.” Kata Pak Arif.
Suara Karya, 30 Oktober 1996
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
