Inovatif, Kreatif Atau Kejam?

Inovatif, Kreatif Atau Kejam? 

Mungkin anda belum pernah mendengar mengenai  masa­kan “udang mabok” yang kabarnya amat istimewa, karena anda tidak termasuk golongan eksklusif,  alias “bukan sembarang orang”. Makanan ini rupanya dikhususkan untuk yang  berkan­tong tebal, dengan rasa seni dan berselera tinggi, jika dengan memamerkan makanan  (udang-udang)  itu hidup-hidup di poci tembus pandang di atas meja makan berikut kompornya. Entahlah, siapa yang  begitu kreatif sehingga memprakarsai gaya makan ini. Maksudnya  menghidangkan udang segar  alami,  bukan segar disimpan di lemari es, sambil menikmati pemandangan  udang-udang yang berenang  itu.  Apalagi jika  dihiasi dengan beberapa batang selderi,  akan terlihat seperti dalam akwarium benaran. 

Jelas  tidak sakit kok. Para penyantap sama  sekali tidak merasa sakit sedikit pun,  kecuali sedapnya hidangan. Lagi pula, tidak ada yang disebut hak-hak azasi  persatwaan. Alangkah lucunya melihat  mereka kelabakan dan mabok kepayang. Betapa  sedapnya mereka direbus, entah dengan  campuran arak apa, hidup-hidup dan pelan-pelan. Hanya Sang Pencipta tak tahan melihatnya, sehingga segera menghentikan penganiayaan itu dengan mengambil mereka kembali ke pangkuanNya. 

Entahlah, apa ini yang harus disebut inovatif  atau kreatif, kalau saya menyebutnya kejam. Kalau  saja orang  bisa menciptakan suatu cara pembunuhan  yang lebih beradab, entah dengan membius sang korban dulu. 

Lain  lagi pengesetan ular hidup-hidup dengan  cara seperti orang melepaskan baju kaosnya hingga bagian dalamnya  ada diluar. Entahlah untuk  dimasak  atau diminum darahnya. Tanpa  suara mereka mengerang minta  tolong,  minta ampun atas “hukuman”  itu, ini pun andaikan ada  dosa, kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan  mereka. Cara pembunuhan lain yang sama kejamnya  pernah ditayangkan TV dalam acara “Aneh Tapi Nyata”. 

Orang  berusaha menyenangkan para  tamu;  ikan-ikan dipamerkan  di akwarium atau di dalam kolam, kepiting raksasa  dipajang di terarium  (akwarium  tak berair). Bagaimana  jika kita pajang  kambing  dan sapinya sekalian? Pengunjung tinggal memilih  calon korbannya. Kebiasaan, lambat laun tokh menumpulkan, membius, mematikan perasaan orang. 

Tetapi bagi orang yang tahu memelihara ikan, pernah merasakan denyut, manis, lembut dan hangatnya  anak kucing,  anjing atau kelinci, melihat mereka  bagai tawanan  yang tak berdaya, tanpa  mengetahui  vonis akan dimasak, disatai, disantap, tanpa bisa protes, naik  banding dan memandang anda dengan mata  yang beriba-iba, hanya orang terbuat dari batu atau kayu saja yang tak akan tergugah. 

Wahai manusia, engkaukah makhluk ciptaan Tuhan yang teramat mulia?                                        

Bisnis Indonesia, 12  Maret 1992

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

hit counter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers